Saya dan mominga sebelum menikah mempunyai lingkungan pertemanan masing-masing. Saya dengan lingkungan FHUI dan Mandiri atau mominga dengan lingkungan FTUI, misalnya. Setelah menikah baru mominga kenal dengan beberapa teman saya dan sebaliknya. Setelah menikah pula kami mengenal istilah Teman Keluarga. Teman Keluarga adalah teman-teman yang sebenarnya hanya teman saya atau teman mominga, atau malah temannya Raka, yang sekarang menjadi teman kita semua.
Minggu lalu ada teman FHUI yang datang ke rumah. Bersilaturahmi sekalian minta dukungan atas rencananya menjadi anggota DPR-RI. Sebagai teman tentu saya mendukung rencana tersebut. Sayangnya, kemampuan saya hanya sekedar mendukung dan belum bisa menolong yang lain. Tapi tak mengapa, urusan dukung mendukung selesai.
Meski begitu ada yang cukup mengganggu dari kehadiran teman tersebut.
Jika sedang bermain di bawah, setiap kali bel rumah berbunyi Raka pasti akan menyambut semua tamu yang datang. Biasanya Raka akan mengajak bicara, atau mengeluarkan semua mainannya untuk dipamerkan, atau nyanyi-nyanyi sendiri yang intinya mencari perhatian tamu. Memang itulah kebiasaan Raka yang tidak pernah kami larang karena Raka hanya mencoba ramah terhadap tamu yang datang.
Jika kami perhatikan dari tamu atau teman yang datang ke rumah, banyak yang setidaknya menegur atau membalas perhatian Raka. Kami sangat hormat kepada tamu atau teman seperti ini karena mau bersikap ramah dengan keluarga kami.
Tapi ada juga yang tak perduli kepada kelakuan Raka. Bapak pegawai kelurahan yang mengurus KTP dan KK kami, misalnya. Bapak tersebut cuek saja dengan kehadiran Raka. Dia malah sibuk bercerita tentang susahnya bikin KTP jaman sekarang, yang ujung-ujungnya malah mencoba memberi kesan kalo bikin KTP sekarang ini mahal dan jika minta tolong pake jasa dia akan sedikit lebih murah dari harga pasaran.
Terhadap orang seperti ini, kami biasanya malas menghadapinya.
Kembali kepada teman FHUI calon anggota DPR tadi. Sedihnya, teman tadi ternyata berkelakuan hampir serupa dengan Bapak pegawai kelurahan. Ketika Raka menyambutnya, kalimat yang terucap hanyalah, "Umur berapa anak lo sekarang man?". Sesudah itu hampir tak ada perhatian lagi.
Teman itu hanya sibuk bercerita tentang rencana, visi misi dan dukungan yang dibutuhkan untuk menjadi anggota Dewan (Ironisnya, teman ini dulunya aktif mengkritik orde baru tapi sekarang fasih berbicara investasi politik). Saat Raka datang bawa mainan untuk dipamerkan, teman itu asik bercerita tentang penggalangan dukungan yang sedang dia lakukan. Saat Raka datang bawa donat sambil mulutnya belepotan coklat, teman tersebut sedang seru menceritakan bahwa dia calon jadi nomor urut satu wilayah banten dari salah satu partai berbasis agama. Terus seperti itu tanpa perduli akan kehadiran Raka karena sedang asyik sendiri meyakinkan bahwa dia calon jadi anggota DPR-RI.
Yang menjadi perhatian saya sebenarnya bukanlah tentang rencana politiknya. Kalo tentang itu, sudah cukup banyak orang yang datang minta dukungan dan bantuan. Yang menggangu saya adalah ketidakperdulian teman itu kepada Raka. Bagi saya, jika ada teman yang ingin berteman dengan saya, berarti dia juga harus mau berteman dengan mominga dan Raka. Ya, dengan kami sekeluarga. Kalo dia keberatan, saya pun rasanya keberatan untuk akrab dengannya.
Dari dulu, jika saya punya teman, pasti teman tersebut juga akan diajak akrab dengan orang-orang terdekat saya.
Ika, contohnya. Sahabat saya di Mandiri. Dia adalah salah satu sahabat keluarga kami. Selain akrab dengan saya, Ika juga akrab dengan mominga atau raka.
Jadi tidak ada ceritanya dalam keluarga kami orang yang akrab dengan saya tapi tidak mau beramah-tamah dengan Raka atau mominga.
Karena Teman Kami, berarti Teman Keluarga. Tanpa kecuali.
Tuesday, February 19, 2008
Teman Kami, Teman Keluarga
Posted by
Firman Yudiansyah
at
4:08 AM
