Friday, February 22, 2008

Perencanaan Keuangan (Part 2)

Revised from previous friendster blog

Pada tulisan sebelumnya, saya mereview portfolio investasi yang ada. Cukup banyak kesalahan. Tapi memang itu kan tujuan dari review portfolio. Mengidentifikasi kesalahan dan memperbaikinya kemudian.

Dijelaskan sebelumnya, perencanaan yang dilakukan saat ini adalah mempersiapkan pendidikan Raka dan dana pensiun. Di blog friendster 2 tahun yang lalu saya pernah memposting ilustrasi sederhana rencana pendidikan raka yang dibuat oleh Ka Imbi sebagai berikut:



Penjelasannya sebagai berikut:
Dengan asumsi biaya saat ini, total biaya TK, SD, SMP, SMA dan Universitas (S-1) yang dibutuhkan kurang lebih Rp. 350 juta. Padahal jumlah sebesar itu baru dibutuhkan dalam rentang waktu 17 tahun. Dengan asumsi inflasi 12 % per tahun, future value Rp. 350 juta untuk 17 tahun lagi adalah Rp. 2.4 milyar rupiah. Suatu angka yang sangat besar, tapi menjadi target yang harus kita dapat. Terus terang, untuk sekarang kami tidak mampu.

Untuk mencapai target Rp. 2.4 Milyar selama 17 tahun, kita harus mem-present value-kan ke saat sekarang dengan asumsi imbal hasil 14%. Hasil present value, target angkanya adalah Rp. 260 juta. Memang masih besar. Jika punya uang sebesar itu sekarang, tentu saja kita bisa tenang karena langkah selanjutnya tinggal mencari produk investasi yang imbal hasil rata-ratanya 14%.

Tapi bagaimana jika kita tidak punya uang sebanyak itu?.

Tidak usah khawatir karena uang sebesar itu baru dibutuhkan selama rentang waktu 17 tahun. Yang perlu dilakukan adalah membagi Rp. 260 juta tadi dengan 17. Dari hasil pembagian itu didapat jumlah yang harus ditabung yaitu Rp. 15 juta pertahun, atau Rp. 1.3 juta perbulan.

Angka Rp. 1.3 juta menjadi angka target minimal menabung atau berinvestasi setiap bulannya untuk dapat memenuhi pendidikan Raka sesuai rencana. Jika masih dalam plafon income per bulan, ya bisa dimulai.

Setelah mengetahui plafond tabungan pendidikan raka perbulan, jika masih surplus dan dengan cara penghitungan diatas, barulah diatur rencana-rencana masa depan lainnya, seperti pensiun, pergi haji, buka usaha, dan lainnya. Tinggal ditetapkan saja dasar asumsinya. Rencana pensiun misalnya, usia berapa mau pensiun, berapa biaya hidup perbulan selama pensiun, dan lainnya.