Tuesday, February 19, 2008

Perencanaan Keuangan (Part 1)

Revised from previous friendster blog

Dua hari sebelum kelahiran Raka, saya dan mominga sempat berkonsultasi ke Ka Imbi, sahabat keluarga yang seorang Licensed Investment Manager. Concern kami saat itu adalah perencanaan keuangan untuk asuransi pendidikan Raka (dan adiknya nanti) dan dana pensiun kami berdua.

Kita berkonsultasi karena ketidaktahuan cara berinvestasi yang baik dan menguntungkan. Saat itu portfolio investasi kita hanya deposito, yang imbal hasilnya cenderung dibawah inflasi dan masih dipotong pajak pula

Menurut Ka Imbi, gaya pengelolaan keuangan kita selama ini sudah cukup baik, dengan menyisihkan sekian persen dari penghasilan untuk ditabung atau diinvestasikan. Sayangnya, portfolio investasi yang dipilih tidak maksimal memberikan imbal hasil untuk menutupi keperluan dan kebutuhan di masa depan.

Saat itu, 80% dari aset cash kita ada di deposito yang imbal hasilnya sebelum dipotong pajak hanya sekitar 6-9% saja. Jika dibandingkan dengan inflasi tahunan (yang tahun 2005 saja mencapai 17%) berarti hasil investasi setiap tahunnya berkurang termakan inflasi.

Memang ada 20% lagi dalam unit link. Tapi karena tidak paham, pengaturan penempatannya salah. Saat itu kita punya tiga rekening unit link, tiga tabungan pendidikan dan satu asuransi jiwa (whole life). Dana di unit link tiga-tiganya diinvestasikan secara konservatif, atau ditanam di pasar uang yang imbal hasilnya kecil namun dengan resiko yang rendah pula.

Mempunyai rekening unit link sampai tiga buah adalah suatu kesalahan perencanaan keuangan yang cukup fatal.

Saat membuka tiga rekening itu saya berpikirnya dangkal sekali. Dengan tiga rekening, jika terjadi sesuatu dengan saya atau mominga maka dana yang di dapat oleh ahli waris akan bertambah besar pula.

Hitungannya, selain mendapat hasil investasi ditambah imbal hasil ahli waris juga akan mendapat tambahan perlindungan asuransi dari masing-masing rekening, yang nilai per rekeningnya sekitar Rp. 100 – 200 jutaan. Dengan mempunyai tiga rekening berarti total perlindungannya menjadi sekitar Rp. 500 jutaan, diluar hasil investasi masing-masing rekening.

Jika melihat dari sisi itu mungkin benar. Tapi tahukah berapa premi yang harus dibayar pertahun untuk mendapatkan perlindungan Rp. 500 juta ditambah hasil investasi Rp. 130 juta dalam waktu 10 tahun? Jawabannya Rp. 12 juta pertahun, atau Rp. 4 juta per rekening. Rp. 12 juta per tahun berarti Rp. 1 juta perbulan (Di umur 30 tahun, jika memilih asuransi yang tepat untuk perlindungan sebesar Rp. 500 juta sebenarnya cukup membayar premi Rp. 1 juta perTAHUNnya).

Belum lagi pemotongan nilai investasi di 5 tahun pertama untuk pembayaran premi asuransi. Dengan adanya pemotongan tadi, hasil investasi pada 5 tahun pertama akan lebih kecil dari premi yang dibayarkan. Nilainya baru sama pada tahun ke 6.

Jadi, mempunyai tiga rekening unit link adalah suatu kesalahan.

Begitu juga asuransi jiwa whole life. Maksud dari asuransi ini adalah premi yang dibayarkan tiap tahun tidak akan hangus. Sehingga jika dalam jangka waktu 20 tahun tidak terjadi sesuatu, kita akan mendapatkan uang premi yang dibayarkan ditambah bonus pengganti imbal hasil. Menggiurkan bukan.

Terlebih jika dibandingkan dengan asuransi jiwa term life. Di asuransi ini premi yang dibayarkan akan hangus. Sehingga jika dalam jangka waktu 20 tahun tidak terjadi apa-apa, kita tidak mendapatkan apa-apa.

Untuk orang Indonesia, marketing gimmick seperti pada asuransi term life tentu kurang laku. Sebaliknya, marketing gimmick asuransi whole lifelah yang disukai orang. Mengingat premi yang dibayarkan tidak hilang, orang menganggap premi itu sebagai tabungan hari tua.

PADAHAL, tahukah bahwa jumlah premi yang dibayarkan untuk mendapatkan perlindungan dengan nilai yang sama pada kedua jenis asuransi ini bedanya bisa 500% lebih besar.

Dengan asumsi usia 30 tahun, pada asuransi whole Life dengan perlindungan Rp. 1 milyar, setiap tahunnya harus membayar premi Rp. 10 juta. Sedangkan pada asuransi term life, untuk nilai perlindungan yang sama, setiap tahunnya cukup membayar Rp. 2 juta saja.

Memang, pada asuransi term life jika dalam jangka waktu 20 tahun tidak terjadi sesuatu kita tidak mendapatkan apa-apa. Alias premi kita hangus begitu saja. Tapi memang itu kan tujuan dari Asuransi?. Melindungi diri kita, sumber penghasilan keluarga, dari ketidakpastian. Agar, jika kelak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, keluarga yang ditinggalkan tetap dapat menjalankan hidup dan pendidikan dengan layak.

Tujuan saya berasuransi adalah agar pendidikan Raka bisa selesai. Minimal S-2. Jadi jika selama masa Pendidikan Raka tersebut terjadi sesuatu dengan saya atau mominga, pendidikan Raka tidak akan terhenti karena faktor biaya. Perlindungan asuransi yang akan didapat oleh ahli waris dapat bermanfaat untuk membiayai pendidikan dan biaya hidup sampai masa pendidikannya selesai.

Namun jika dalam 20 tahun ke depan tidak terjadi sesuatu dengan saya atau mominga sehingga, Insya Allah, pendidikan Raka dapat selesai dan bisa mempunyai penghasilan sendiri untuk membiayai pangan, sandang dan papannya, cukup sudah kewajiban saya dan mominga, selaku orang tua, untuk membiayai pendidikan Raka. Jika ada rejeki dan mampu, mungkin saya bisa memberikan rumah, kendaraan atau lainnya kepada Raka. Tapi itu bukanlah kewajiban.

Sedangkan pada asuransi whole life, jika dalam jangka waktu 20 tahun tidak terjadi sesuatu, pada tahun ke 20 kita akan mendapatkan uang Rp. 200 jutaan, atau ekuivalen dengan premi per tahun dikali 20. Biasanya masih mendapatkan bonus lain, tapi paling Rp. 10 -50 juta saja. Hingga keseluruhannya bisa mendapat Rp. 200 – 250 juta.

Tapi untuk apa Rp. 250 juta pada tahun ke 20, yang jika di future valuekan paling hanya akan bernilai Rp. 15 juta sekarang. Apa sih yang bisa dilakukan dengan uang sebesar itu?. Membeli mobil atau rumah pun tidak bisa.

Coba jika selisih premi tadi (Rp.10 juta – Rp. 2 Juta = Rp. 8 Juta atau Rp. 160 juta per 20 tahun) diinvestasikan pada portfolio investasi yang tepat dan mampu menghasilkan 15-20% pertahun. Dalam 20 tahun, Rp. 160 juta ini dapat berkembang menjadi Rp. 1.5 milyar.

Pelajaran yang dipetik dari pengalaman diatas, cara merencanaan keuangan yang tepat adalah melindungi diri kita dengan memilih bentuk dan dari perusahaan asuransi yang tepat, serta menginvestasikan dana kita dengan portfolio dan dari perusahaan investasi yang benar sehingga dapat memberikan imbal hasil maksimal namun biaya minimal.

Jadi jangan salah kaprah. Beli asuransi kok mengharapkan hasil investasi, atau berinvestasi kok di perusahaan asuransi. Ya mahal lah!!.