Tuesday, February 26, 2008

Kurang Ikhlas

Kegiatan rutin saya setiap bulan adalah memangkas rambut. Tukang pangkas langganan saya namanya pak Dadang. Asal dari cianjur, usia 51 tahun, anak 3. Akhir-akhir ini sering ikut kegiatan pengajian di mesjid rumahnya. "Maklum mas, saya kan sudah mulai tua, harus mulai inget yang diatas", ceritanya kepada saya. Hasil pangkasnya lumayan baik. Saya pun tak ragu menjadikannya tukang pangkas langgangan. Sehabis pangkas, uang tips tak segan saya berikan kepadanya. Penghargaan atas jasanya.

Karena sering melayani, kami pun menjadi akrab. Disela pemangkasan kita sering terlibat percakapan. Kadang dia yang bercerita, kadang saya yang bercerita. Karena akrab pulalah, saya perhatikan ada perbedaan jasa yang diberikan. Dengan minyak, setelah kegiatan pangkas rambut selesai, sekitar 15 menit kepala, leher, badan, tangan dan pundak saya dipijatnya. 15 menit adalah suatu waktu yang cukup lama. Biasanya 5 menit adalah waktu yang diberikannya kepada pelanggan biasa. Sungguh suatu jasa yang tidak semua pelanggannya terima.

Merasa rambut sudah mulai tebal, kemarin sore saya pangkas rambut. Tiba di barber shop pukul 17.00. Saat parkir, saya melihat seorang bapak usia 40 an akhir. Begitu turun dari kendaraannya, Toyota Alphard, ia kemudian masuk ke barber shop. Tak lama setelahnya, saya pun ikut masuk.

Ternyata saya terlambat lima menit saja. Pak dadang baru saja menerima bapak itu sebagai pelanggannya. Akhirnya saya menunggu di kursi tunggu. Sambil menunggu, saya memperhatikan pak dadang yang sedang mencukur bapak pemilik Toyota Alphard tadi. Dari penampilannya, terlihat sepertinya bukan tipe orang yang kekurangan uang. Beberapa merek terkenal terlihat melekat di tubuhnya.

Bapak itu nampaknya pelanggan baru di barber shop. Ketika pak dadang mencoba beramah tamah, ia hanya menjawab iya dan tidak. Seperti ada keengganan untuk beramah tamah. Entah karena terpukau dengan penampilannya atau memang pelanggan tetapnya, setelah pangkas pak dadang memijat bapak itu dengan seksama. Ada sekitar 10-15 menit pak dadang memijat bapak itu. Nyaman sekali melihatnya.

Selesai dipijat, selesai pulalah giliran bapak itu. Kemudian, saya pun dipersilahkan untuk duduk di kursi pangkasnya. Sambil merapihkan perabotan pangkasnya, saya perhatikan pak dadang seperti menunggu sesuatu.

Ya, uang tips lah yang ditunggunya.

Selesai membayar tidak terlihat reaksi dari bapak itu untuk memberikan uang tips. Ia malah menuju pintu ke luar untuk kemudian pulang.

Tidak sepeserpun uang tips yang diterima pak dadang.

Saya melihat raut muka khawatir di wajah pak dadang. Sambil terus menatap pintu keluar barber shop, terlihat wajah pak dadang mengharapkan bapak itu kembali lagi untuk memberikan tips kepadanya.

Tapi harapan tinggal harapan.

Satu dua menit pak dadang menunggu bapak itu, namun ia tetap tidak kembali lagi. Toyota Alphard yang membawanya pun mulai meninggalkan parkiran barber shop untuk pergi entah kemana.

Selama melayani saya, terlihat raut wajah kecewa bercampur kesal. Akhirnya iseng-iseng saya tegur pak dadang "kenapa cemberut? ditinggal pelanggan tanpa tips ya pak?".

Dengan tersenyum pak dadang pun membalas "Hehe, kok tau pak. Iya saya sebal dengan bapak tadi. Orang kaya tapi kok bisa sih nggak kasih tips ke saya".

"Makanya pak, kalo melayani orang itu ikhlas aja. Jangan ngarepin tips", " Katanya udah mulai ngaji, tapi kok masih begini aja" tukas saya ke pak dadang.

Mendengar itu, pak dadang hanya berujar" Iya sih pak, tapi kan boleh ngarepin tips. Itung-itung nambah uang dapur buat keluarga. Kalo dari gaji doang mah, gak cukup"

Kita berdua pun tertawa.