Kegiatan rutin saya setiap bulan adalah memangkas rambut. Tukang pangkas langganan saya namanya pak Dadang. Asal dari cianjur, usia 51 tahun, anak 3. Akhir-akhir ini sering ikut kegiatan pengajian di mesjid rumahnya. "Maklum mas, saya kan sudah mulai tua, harus mulai inget yang diatas", ceritanya kepada saya. Hasil pangkasnya lumayan baik. Saya pun tak ragu menjadikannya tukang pangkas langgangan. Sehabis pangkas, uang tips tak segan saya berikan kepadanya. Penghargaan atas jasanya.
Karena sering melayani, kami pun menjadi akrab. Disela pemangkasan kita sering terlibat percakapan. Kadang dia yang bercerita, kadang saya yang bercerita. Karena akrab pulalah, saya perhatikan ada perbedaan jasa yang diberikan. Dengan minyak, setelah kegiatan pangkas rambut selesai, sekitar 15 menit kepala, leher, badan, tangan dan pundak saya dipijatnya. 15 menit adalah suatu waktu yang cukup lama. Biasanya 5 menit adalah waktu yang diberikannya kepada pelanggan biasa. Sungguh suatu jasa yang tidak semua pelanggannya terima.
Merasa rambut sudah mulai tebal, kemarin sore saya pangkas rambut. Tiba di barber shop pukul 17.00. Saat parkir, saya melihat seorang bapak usia 40 an akhir. Begitu turun dari kendaraannya, Toyota Alphard, ia kemudian masuk ke barber shop. Tak lama setelahnya, saya pun ikut masuk.
Ternyata saya terlambat lima menit saja. Pak dadang baru saja menerima bapak itu sebagai pelanggannya. Akhirnya saya menunggu di kursi tunggu. Sambil menunggu, saya memperhatikan pak dadang yang sedang mencukur bapak pemilik Toyota Alphard tadi. Dari penampilannya, terlihat sepertinya bukan tipe orang yang kekurangan uang. Beberapa merek terkenal terlihat melekat di tubuhnya.
Bapak itu nampaknya pelanggan baru di barber shop. Ketika pak dadang mencoba beramah tamah, ia hanya menjawab iya dan tidak. Seperti ada keengganan untuk beramah tamah. Entah karena terpukau dengan penampilannya atau memang pelanggan tetapnya, setelah pangkas pak dadang memijat bapak itu dengan seksama. Ada sekitar 10-15 menit pak dadang memijat bapak itu. Nyaman sekali melihatnya.
Selesai dipijat, selesai pulalah giliran bapak itu. Kemudian, saya pun dipersilahkan untuk duduk di kursi pangkasnya. Sambil merapihkan perabotan pangkasnya, saya perhatikan pak dadang seperti menunggu sesuatu.
Ya, uang tips lah yang ditunggunya.
Selesai membayar tidak terlihat reaksi dari bapak itu untuk memberikan uang tips. Ia malah menuju pintu ke luar untuk kemudian pulang.
Tidak sepeserpun uang tips yang diterima pak dadang.
Saya melihat raut muka khawatir di wajah pak dadang. Sambil terus menatap pintu keluar barber shop, terlihat wajah pak dadang mengharapkan bapak itu kembali lagi untuk memberikan tips kepadanya.
Tapi harapan tinggal harapan.
Satu dua menit pak dadang menunggu bapak itu, namun ia tetap tidak kembali lagi. Toyota Alphard yang membawanya pun mulai meninggalkan parkiran barber shop untuk pergi entah kemana.
Selama melayani saya, terlihat raut wajah kecewa bercampur kesal. Akhirnya iseng-iseng saya tegur pak dadang "kenapa cemberut? ditinggal pelanggan tanpa tips ya pak?".
Dengan tersenyum pak dadang pun membalas "Hehe, kok tau pak. Iya saya sebal dengan bapak tadi. Orang kaya tapi kok bisa sih nggak kasih tips ke saya".
"Makanya pak, kalo melayani orang itu ikhlas aja. Jangan ngarepin tips", " Katanya udah mulai ngaji, tapi kok masih begini aja" tukas saya ke pak dadang.
Mendengar itu, pak dadang hanya berujar" Iya sih pak, tapi kan boleh ngarepin tips. Itung-itung nambah uang dapur buat keluarga. Kalo dari gaji doang mah, gak cukup"
Kita berdua pun tertawa.
Tuesday, February 26, 2008
Kurang Ikhlas
Posted by
Firman Yudiansyah
at
8:51 PM
Friday, February 22, 2008
Perencanaan Keuangan (Part 2)
Revised from previous friendster blog
Pada tulisan sebelumnya, saya mereview portfolio investasi yang ada. Cukup banyak kesalahan. Tapi memang itu kan tujuan dari review portfolio. Mengidentifikasi kesalahan dan memperbaikinya kemudian.
Dijelaskan sebelumnya, perencanaan yang dilakukan saat ini adalah mempersiapkan pendidikan Raka dan dana pensiun. Di blog friendster 2 tahun yang lalu saya pernah memposting ilustrasi sederhana rencana pendidikan raka yang dibuat oleh Ka Imbi sebagai berikut:

Penjelasannya sebagai berikut:
Dengan asumsi biaya saat ini, total biaya TK, SD, SMP, SMA dan Universitas (S-1) yang dibutuhkan kurang lebih Rp. 350 juta. Padahal jumlah sebesar itu baru dibutuhkan dalam rentang waktu 17 tahun. Dengan asumsi inflasi 12 % per tahun, future value Rp. 350 juta untuk 17 tahun lagi adalah Rp. 2.4 milyar rupiah. Suatu angka yang sangat besar, tapi menjadi target yang harus kita dapat. Terus terang, untuk sekarang kami tidak mampu.
Untuk mencapai target Rp. 2.4 Milyar selama 17 tahun, kita harus mem-present value-kan ke saat sekarang dengan asumsi imbal hasil 14%. Hasil present value, target angkanya adalah Rp. 260 juta. Memang masih besar. Jika punya uang sebesar itu sekarang, tentu saja kita bisa tenang karena langkah selanjutnya tinggal mencari produk investasi yang imbal hasil rata-ratanya 14%.
Tapi bagaimana jika kita tidak punya uang sebanyak itu?.
Tidak usah khawatir karena uang sebesar itu baru dibutuhkan selama rentang waktu 17 tahun. Yang perlu dilakukan adalah membagi Rp. 260 juta tadi dengan 17. Dari hasil pembagian itu didapat jumlah yang harus ditabung yaitu Rp. 15 juta pertahun, atau Rp. 1.3 juta perbulan.
Angka Rp. 1.3 juta menjadi angka target minimal menabung atau berinvestasi setiap bulannya untuk dapat memenuhi pendidikan Raka sesuai rencana. Jika masih dalam plafon income per bulan, ya bisa dimulai.
Setelah mengetahui plafond tabungan pendidikan raka perbulan, jika masih surplus dan dengan cara penghitungan diatas, barulah diatur rencana-rencana masa depan lainnya, seperti pensiun, pergi haji, buka usaha, dan lainnya. Tinggal ditetapkan saja dasar asumsinya. Rencana pensiun misalnya, usia berapa mau pensiun, berapa biaya hidup perbulan selama pensiun, dan lainnya.
Posted by
Firman Yudiansyah
at
8:18 AM
Tuesday, February 19, 2008
Perencanaan Keuangan (Part 1)
Revised from previous friendster blog
Dua hari sebelum kelahiran Raka, saya dan mominga sempat berkonsultasi ke Ka Imbi, sahabat keluarga yang seorang Licensed Investment Manager. Concern kami saat itu adalah perencanaan keuangan untuk asuransi pendidikan Raka (dan adiknya nanti) dan dana pensiun kami berdua.
Kita berkonsultasi karena ketidaktahuan cara berinvestasi yang baik dan menguntungkan. Saat itu portfolio investasi kita hanya deposito, yang imbal hasilnya cenderung dibawah inflasi dan masih dipotong pajak pula
Menurut Ka Imbi, gaya pengelolaan keuangan kita selama ini sudah cukup baik, dengan menyisihkan sekian persen dari penghasilan untuk ditabung atau diinvestasikan. Sayangnya, portfolio investasi yang dipilih tidak maksimal memberikan imbal hasil untuk menutupi keperluan dan kebutuhan di masa depan.
Saat itu, 80% dari aset cash kita ada di deposito yang imbal hasilnya sebelum dipotong pajak hanya sekitar 6-9% saja. Jika dibandingkan dengan inflasi tahunan (yang tahun 2005 saja mencapai 17%) berarti hasil investasi setiap tahunnya berkurang termakan inflasi.
Memang ada 20% lagi dalam unit link. Tapi karena tidak paham, pengaturan penempatannya salah. Saat itu kita punya tiga rekening unit link, tiga tabungan pendidikan dan satu asuransi jiwa (whole life). Dana di unit link tiga-tiganya diinvestasikan secara konservatif, atau ditanam di pasar uang yang imbal hasilnya kecil namun dengan resiko yang rendah pula.
Mempunyai rekening unit link sampai tiga buah adalah suatu kesalahan perencanaan keuangan yang cukup fatal.
Saat membuka tiga rekening itu saya berpikirnya dangkal sekali. Dengan tiga rekening, jika terjadi sesuatu dengan saya atau mominga maka dana yang di dapat oleh ahli waris akan bertambah besar pula.
Hitungannya, selain mendapat hasil investasi ditambah imbal hasil ahli waris juga akan mendapat tambahan perlindungan asuransi dari masing-masing rekening, yang nilai per rekeningnya sekitar Rp. 100 – 200 jutaan. Dengan mempunyai tiga rekening berarti total perlindungannya menjadi sekitar Rp. 500 jutaan, diluar hasil investasi masing-masing rekening.
Jika melihat dari sisi itu mungkin benar. Tapi tahukah berapa premi yang harus dibayar pertahun untuk mendapatkan perlindungan Rp. 500 juta ditambah hasil investasi Rp. 130 juta dalam waktu 10 tahun? Jawabannya Rp. 12 juta pertahun, atau Rp. 4 juta per rekening. Rp. 12 juta per tahun berarti Rp. 1 juta perbulan (Di umur 30 tahun, jika memilih asuransi yang tepat untuk perlindungan sebesar Rp. 500 juta sebenarnya cukup membayar premi Rp. 1 juta perTAHUNnya).
Belum lagi pemotongan nilai investasi di 5 tahun pertama untuk pembayaran premi asuransi. Dengan adanya pemotongan tadi, hasil investasi pada 5 tahun pertama akan lebih kecil dari premi yang dibayarkan. Nilainya baru sama pada tahun ke 6.
Jadi, mempunyai tiga rekening unit link adalah suatu kesalahan.
Begitu juga asuransi jiwa whole life. Maksud dari asuransi ini adalah premi yang dibayarkan tiap tahun tidak akan hangus. Sehingga jika dalam jangka waktu 20 tahun tidak terjadi sesuatu, kita akan mendapatkan uang premi yang dibayarkan ditambah bonus pengganti imbal hasil. Menggiurkan bukan.
Terlebih jika dibandingkan dengan asuransi jiwa term life. Di asuransi ini premi yang dibayarkan akan hangus. Sehingga jika dalam jangka waktu 20 tahun tidak terjadi apa-apa, kita tidak mendapatkan apa-apa.
Untuk orang Indonesia, marketing gimmick seperti pada asuransi term life tentu kurang laku. Sebaliknya, marketing gimmick asuransi whole lifelah yang disukai orang. Mengingat premi yang dibayarkan tidak hilang, orang menganggap premi itu sebagai tabungan hari tua.
PADAHAL, tahukah bahwa jumlah premi yang dibayarkan untuk mendapatkan perlindungan dengan nilai yang sama pada kedua jenis asuransi ini bedanya bisa 500% lebih besar.
Dengan asumsi usia 30 tahun, pada asuransi whole Life dengan perlindungan Rp. 1 milyar, setiap tahunnya harus membayar premi Rp. 10 juta. Sedangkan pada asuransi term life, untuk nilai perlindungan yang sama, setiap tahunnya cukup membayar Rp. 2 juta saja.
Memang, pada asuransi term life jika dalam jangka waktu 20 tahun tidak terjadi sesuatu kita tidak mendapatkan apa-apa. Alias premi kita hangus begitu saja. Tapi memang itu kan tujuan dari Asuransi?. Melindungi diri kita, sumber penghasilan keluarga, dari ketidakpastian. Agar, jika kelak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, keluarga yang ditinggalkan tetap dapat menjalankan hidup dan pendidikan dengan layak.
Tujuan saya berasuransi adalah agar pendidikan Raka bisa selesai. Minimal S-2. Jadi jika selama masa Pendidikan Raka tersebut terjadi sesuatu dengan saya atau mominga, pendidikan Raka tidak akan terhenti karena faktor biaya. Perlindungan asuransi yang akan didapat oleh ahli waris dapat bermanfaat untuk membiayai pendidikan dan biaya hidup sampai masa pendidikannya selesai.
Namun jika dalam 20 tahun ke depan tidak terjadi sesuatu dengan saya atau mominga sehingga, Insya Allah, pendidikan Raka dapat selesai dan bisa mempunyai penghasilan sendiri untuk membiayai pangan, sandang dan papannya, cukup sudah kewajiban saya dan mominga, selaku orang tua, untuk membiayai pendidikan Raka. Jika ada rejeki dan mampu, mungkin saya bisa memberikan rumah, kendaraan atau lainnya kepada Raka. Tapi itu bukanlah kewajiban.
Sedangkan pada asuransi whole life, jika dalam jangka waktu 20 tahun tidak terjadi sesuatu, pada tahun ke 20 kita akan mendapatkan uang Rp. 200 jutaan, atau ekuivalen dengan premi per tahun dikali 20. Biasanya masih mendapatkan bonus lain, tapi paling Rp. 10 -50 juta saja. Hingga keseluruhannya bisa mendapat Rp. 200 – 250 juta.
Tapi untuk apa Rp. 250 juta pada tahun ke 20, yang jika di future valuekan paling hanya akan bernilai Rp. 15 juta sekarang. Apa sih yang bisa dilakukan dengan uang sebesar itu?. Membeli mobil atau rumah pun tidak bisa.
Coba jika selisih premi tadi (Rp.10 juta – Rp. 2 Juta = Rp. 8 Juta atau Rp. 160 juta per 20 tahun) diinvestasikan pada portfolio investasi yang tepat dan mampu menghasilkan 15-20% pertahun. Dalam 20 tahun, Rp. 160 juta ini dapat berkembang menjadi Rp. 1.5 milyar.
Pelajaran yang dipetik dari pengalaman diatas, cara merencanaan keuangan yang tepat adalah melindungi diri kita dengan memilih bentuk dan dari perusahaan asuransi yang tepat, serta menginvestasikan dana kita dengan portfolio dan dari perusahaan investasi yang benar sehingga dapat memberikan imbal hasil maksimal namun biaya minimal.
Jadi jangan salah kaprah. Beli asuransi kok mengharapkan hasil investasi, atau berinvestasi kok di perusahaan asuransi. Ya mahal lah!!.
Posted by
Firman Yudiansyah
at
9:43 AM
Teman Kami, Teman Keluarga
Saya dan mominga sebelum menikah mempunyai lingkungan pertemanan masing-masing. Saya dengan lingkungan FHUI dan Mandiri atau mominga dengan lingkungan FTUI, misalnya. Setelah menikah baru mominga kenal dengan beberapa teman saya dan sebaliknya. Setelah menikah pula kami mengenal istilah Teman Keluarga. Teman Keluarga adalah teman-teman yang sebenarnya hanya teman saya atau teman mominga, atau malah temannya Raka, yang sekarang menjadi teman kita semua.
Minggu lalu ada teman FHUI yang datang ke rumah. Bersilaturahmi sekalian minta dukungan atas rencananya menjadi anggota DPR-RI. Sebagai teman tentu saya mendukung rencana tersebut. Sayangnya, kemampuan saya hanya sekedar mendukung dan belum bisa menolong yang lain. Tapi tak mengapa, urusan dukung mendukung selesai.
Meski begitu ada yang cukup mengganggu dari kehadiran teman tersebut.
Jika sedang bermain di bawah, setiap kali bel rumah berbunyi Raka pasti akan menyambut semua tamu yang datang. Biasanya Raka akan mengajak bicara, atau mengeluarkan semua mainannya untuk dipamerkan, atau nyanyi-nyanyi sendiri yang intinya mencari perhatian tamu. Memang itulah kebiasaan Raka yang tidak pernah kami larang karena Raka hanya mencoba ramah terhadap tamu yang datang.
Jika kami perhatikan dari tamu atau teman yang datang ke rumah, banyak yang setidaknya menegur atau membalas perhatian Raka. Kami sangat hormat kepada tamu atau teman seperti ini karena mau bersikap ramah dengan keluarga kami.
Tapi ada juga yang tak perduli kepada kelakuan Raka. Bapak pegawai kelurahan yang mengurus KTP dan KK kami, misalnya. Bapak tersebut cuek saja dengan kehadiran Raka. Dia malah sibuk bercerita tentang susahnya bikin KTP jaman sekarang, yang ujung-ujungnya malah mencoba memberi kesan kalo bikin KTP sekarang ini mahal dan jika minta tolong pake jasa dia akan sedikit lebih murah dari harga pasaran.
Terhadap orang seperti ini, kami biasanya malas menghadapinya.
Kembali kepada teman FHUI calon anggota DPR tadi. Sedihnya, teman tadi ternyata berkelakuan hampir serupa dengan Bapak pegawai kelurahan. Ketika Raka menyambutnya, kalimat yang terucap hanyalah, "Umur berapa anak lo sekarang man?". Sesudah itu hampir tak ada perhatian lagi.
Teman itu hanya sibuk bercerita tentang rencana, visi misi dan dukungan yang dibutuhkan untuk menjadi anggota Dewan (Ironisnya, teman ini dulunya aktif mengkritik orde baru tapi sekarang fasih berbicara investasi politik). Saat Raka datang bawa mainan untuk dipamerkan, teman itu asik bercerita tentang penggalangan dukungan yang sedang dia lakukan. Saat Raka datang bawa donat sambil mulutnya belepotan coklat, teman tersebut sedang seru menceritakan bahwa dia calon jadi nomor urut satu wilayah banten dari salah satu partai berbasis agama. Terus seperti itu tanpa perduli akan kehadiran Raka karena sedang asyik sendiri meyakinkan bahwa dia calon jadi anggota DPR-RI.
Yang menjadi perhatian saya sebenarnya bukanlah tentang rencana politiknya. Kalo tentang itu, sudah cukup banyak orang yang datang minta dukungan dan bantuan. Yang menggangu saya adalah ketidakperdulian teman itu kepada Raka. Bagi saya, jika ada teman yang ingin berteman dengan saya, berarti dia juga harus mau berteman dengan mominga dan Raka. Ya, dengan kami sekeluarga. Kalo dia keberatan, saya pun rasanya keberatan untuk akrab dengannya.
Dari dulu, jika saya punya teman, pasti teman tersebut juga akan diajak akrab dengan orang-orang terdekat saya.
Ika, contohnya. Sahabat saya di Mandiri. Dia adalah salah satu sahabat keluarga kami. Selain akrab dengan saya, Ika juga akrab dengan mominga atau raka.
Jadi tidak ada ceritanya dalam keluarga kami orang yang akrab dengan saya tapi tidak mau beramah-tamah dengan Raka atau mominga.
Karena Teman Kami, berarti Teman Keluarga. Tanpa kecuali.
Posted by
Firman Yudiansyah
at
4:08 AM
