Wednesday, December 19, 2007

Lulus Ujian Advokat

Reposted from previous friendster blog

Tanggal 4 Februari 2006 saya mengikut ujian Advokat. Ujian ini adalah ujian pertama kali yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) berdasarkan aturan UU No. 18 tahun 2003 tentang Advokat. Sebelumnya, penyelenggara advokat adalah pemerintah, bukannya organisasi advokat. Ujian ini merupakan salah satu syarat agar seorang Sarjana Hukum bisa berpraktek sebagai Advokat di Indonesia.

Untuk itu, ketika malam ditelepon oleh Hadi, sahabat FHUI yang kini bekerja di PERADI, bahwa hasil ujian Advokat sudah diumumkan di website PERADI (www.peradi.or.id), seketika itu juga saya langsung membuka internet dan, Alhamdulilah, hasilnya saya lulus.



Gembira sudah tentu. Dengan lulusnya ini, usaha saya untuk mendapat ijin praktek Advokat tinggal selangkah lagi. Sebagai seorang Sarjana Hukum, saya berharap besar dapat memiliki ijin tersebut, meski nyatanya belum tentu saya berkarir sebagai seorang Advokat. Wajar, karena sejak lulus dari FHUI hingga sekarang, saya tidak punya pengalaman bekerja di bidang yang berkaitan dengan masalah hukum. Terlebih, aktivitas saya sekarang jauh dari dunia hukum. Karenanya, masih panjang jalan bagi saya untuk dapat berprofesi sebagai Advokat.

Meski begitu, harapan untuk dapat berkarir sebagai Advokat masih tetap besar. Untuk sekarang, biarkanlah saya mempergunakannya untuk membela kepentingan hukum saya sendiri, atau setidaknya dapat membantu kepentingan hukum orang-orang terdekat.

Read More......

Cerita Rawabacang

Reposted from previous friendster blog

Sejak mengenal media e-mail, nama Rawabacang telah saya pakai sebagai alamatnya. Alasan menggunakan Rawabacang karena saat itu nama yang saya inginkan sudah ada yang memilikinya. Setelah dipikir ulang akhirnya saya menggunakan nama Rawabacang. Alasannya simpel, Rawabacang nama yang unik dan tidak sulit dieja.

Rawabacang sendiri merupakan nama kampung betawi tempat saya tinggal dari tahun 1994 hingga 2006. Saat pertama pindah, Rawabacang masih perkampungan asli. Akses jalan utamanya masih sirtu, alias pasir batu, dan belum tersentuh aspal sama sekali. Penduduk aslinya adalah orang-orang betawi asli yang hidupnya kian terpinggirkan dari Jakarta. Kami bertetangga dengan banyak keluarga betawi asli. Bapak di samping rumah, Pak Matdullah, kegiatannya mirip dengan karakter Babe di film si Doel anak Sekolah. Kerjaanya tidur-tiduran di kursi rotan panjang sambil jaga warung dan nunggu setoran angkot. Ada juga tetangga lain yang merupakan jagoan Rawabacang. Bapak itu mempunyai istri sampai empat orang, tapi tanahnya tersebar di daerah Rawabacang dan sekitarnya. Sangat tipikal orang betawi, jago silat dan memiliki tanah berhektar-hektar. Tapi yang luar biasa, Para pemudanya (pada saat itu). Setiap adzan maghrib, terutama malam jumat, pasti sholat berjemaah di mesjid yang dilanjutkan mengaji bersama. Padahal para pemuda itu, tidak beda dengan pemuda pada tahun 90-an, yaitu para pelaku tawuran pelajar yang ramai pada saat itu.
Selanjutnya, tidak banyak yang bisa diceritakan selain kehidupan kampungnya seperti kampung-kampung betawi lainnya yang tersebar di pinggiran Jakarta.

Tapi itu dulu...

Sekarang Rawabacang sudah berubah. Kampung Rawabacang sudah menjadi jalan alternatif di daerah Pondok Gede. Jalannya sudah di aspal dan cukup lebar karena bisa dilewati oleh 2 mobil. Di kanan kiri Rawabacang sudah banyak berdiri rumah kost-kostan. Para sepuh betawi sudah banyak yang meninggal. Pemuda aslinya sudah banyak yang tidak tinggal di Rawabacang. Sekarang Rawabacang banyak dihuni orang-orang perantauan yang bekerja di Jabotabek. Sudah banyak orang Pondok Gede yang mengetahui dimana Rawabacang itu.

Bagi saya yang menggunakan nama Rawabacang untuk alamat e-mail, selain mantan penghuni Rawabacang, saya pun rasanya turut punya andil mempopulerkan nama Rawabacang. Setidaknya, orang yang kenal dengan saya dan hendak meminta alamat e-mail, pasti akan bertanya ”Man, Rawabacang itu apa...?”
Saya jadi teringat pada teman kuliah saya di Hamburg dulu yang selalu memanggil saya dengan ”Rawabakang...”. Ya, Rawabakang. Itu karena mereka tidak bisa mengucapkan huruf c di Rawabacang.

Sekarang saya sudah bukan penghuni Rawabacang lagi. Tapi cerita tentang Rawabacang akan terus dikenang.

Read More......