Thursday, June 7, 2007

Detik-Detik Kelahiran Rakamulya... (Part 3)

Senin, 27 Februari 2006

10.20-10.35 WIB

Dokter bram nyuruh mamah nafas panjang. Mamah berusaha ngeden panjang supaya Raka bisa keluar. Perlahan tapi pasti kepala Raka udah mulai turun, tapi tetap belom pas juga. Ayah ngeliat dengan jelas dokter bram dengan tenangnya mulai menggunting-gunting jalan keluarnya Raka supaya jadi lebar. Darah segar muncrat dan mengalir dengan deras. Ayah ngilu, tapi ayah pengen liat keluarnya Raka dengan jelas. Disini ayah ngeliat luar biasanya perjuangan mamah. Wajar kalo surga ada ditelapak kali ibu.

Ayah bisa ngeliat dengan jelas perjuangan mamah hingga ke titik darah dan deru nafas penghabisan. Bayangin aja, mamah udah nggak ada tenaga, darah ngucur dengan deras, tapi mamah tetep disuruh ngeden yang butuh tenaga besar. Nyawa mamah bener-bener seperti udah di ujung tanduk. Kalo fisik mamah nggak kuat, mungkin pada saat itu mamah udah meninggal. Perasaan ayah udah bener-bener nggak karu-karuan. Mendengar suara mamah nahan sakit, muka udah biru, nafas yang udah tersengal-sengal, tapi masih disuruh ngeden, bener-benar perjuangan yang layak diganjar dengan surga. Mamah ngelakuin itu semua hanya supaya anaknya bisa lahir dengan selamat, tapi dengan mempertaruhkan nyawanya. Ayah udah bener-bener gemetar. Untung ayah nggak pingsan, meskipun darah ada dimana-mana.



10.39 WIB

Karena masih tetep nggak bisa keluar juga, dokter nganjurin untuk di vacum.

Di vacum itu dimasukin alat bulat yang pas dengan kepala bayi, terbuat dari bahan seperti besi dengan diameter sebesar paha orang dewasa ke jalan lahirnya mamah. Fungsinya supaya si bayi bisa keluar, tapi dengan mediasi alat bantuan. Prosesnya, alat vacum itu dimasukan ke jalan lahir mamah, kemudian ditempelkan ke kepala bayi, diputar di kepala bayi sampai tidak longgar lagi, kemudian kepala bayi yang sudah ditempel dengan alat vacum itu ditarik keluat perlahan lahan.

Ayah sempet nggak mau. Ayah sempet bilang, gimana kalo di Operasi SC aja, karena ayah takut kalo ada efek samping dengan si bayi. Tapi dokter optimis kalo mamah tetep masih bisa lahir normal, dan lahir dengan vacum nggak ada efek sampingnya. Kata dokter, nanti seandainya memang ada masalah, dokter pasti akan langsung operasi SC.

Dengan mata berkaca-kaca dan suara bergetar, Ayah sempet bilang ke dokter ”Dokter, tolong istri dan anak saya ya dok.... Saya benar-benar minta tolong supaya tidak terjadi apa-apa sama istri dan anak saya.... Saya percaya sama dokter aja, tolong berikan yang terbaik buat istri dan anak saya...”.

Dengan tenangnya dokter ngejawab ”Tenang aja pak, prosesnya udah bagus kok. Kalo ada apa-apa, kita langsung SC aja. Jangan khawatir...”

10.40 WIB

Suster nyiapin seluruh peralatan untuk vacum. Dokter juga udah siap-siap dengan gunting dan segala macamnya yang ayah nggak ngerti sama sekali

10.41 WIB

Proses Vacum dimulai

10.45-11.00 WIB

Alat vacum yang sebesar paha orang dewasa dimasukkan ke jalan lahir Raka. Bayangin aja, alat yang sebesar itu masuk ke jalan lahir yang sekecil itu. Otomatis, jalan lahir Raka, lagi-lagi dengan tenangnya digunting kanan kiri atas bawah sama dokter. Ayah ngeliat dengan jelas proses masuknya alat vacum ke jalan lahirnya mamah. Misalnya nggak muat, dokter akan gunting, kemudian pelan-pelan ditekan supaya masuk ke jalan lahir Raka. Ayah udah nggak tau lagi, gimana sakitnya mamah (tapi setelah proses melahirkan selesai, mamah bilang kalo mamah udah nggak bisa ngerasain sakit karena digunting. Menurut mamah, sakitnya mules supaya Raka bisa keluar jauh lebih sakit dibanding dengan sakitnya proses pengguntingan jalan lahirnya Raka. Tapi yang pasti, kata mamah sakitnya bener-bener luar biasa) 

Tahap pertama, mamah disuruh ngeden panjang, supaya dokter bisa masang alat vacum ke kepala Raka.

Tahap kedua, mamah disuruh ngeden panjang tiga kali, sebelum mamah kecapekan. Istirahat lima menit, mamah ngeden panjang lagi. Diusaha yang kedua, kepala Raka sudah bisa nempel dengan alat vacum, tapi tetep butuh bantuan tekanan dari ngedennya mamah. Mamah cuman bisa ngeden panjang tiga kali untuk kemudian istirahat kecapekan.

11.01-11.05 WIB

Di usaha yang ketiga, kata dokter kepala Raka udah bisa ketarik, dan Raka sebenarnya udah bisa keluar. Tapi karena nafas mamah udah nggak panjang lagi, tenaga mamah udah nggak maksimal lagi, akhirnya Raka masuk lagi, dan mamah istirahat dulu.

Tapi dokter bilang, diusaha yang keempat, Raka pasti keluar, karena kepalanya udah ketarik. Ngedenger janji dokter tadi, ayah langsung semangatin mamah supaya usaha lagi. Kali ini kalo bisa di maksimalkan. Mamah juga seneng denger berita dari dokter tadi dan langsung simpen tenaga supaya bisa maksimal di upaya yang keempat.

11.11 WIB

Upaya keempat penarikan Raka keluar dari rahim mamah dimulai. Ayah semangatin mamah, mamah juga udah siap-siap. Di ngeden pertama, tangan dokter udah siap menyambut kepala Raka. Tapi, mamah nggak kuat tahan nafas panjang, jadi nafasnya keluar lagi. Raka masuk lagi

11.12 WIB

Mamah cepet-cepet tarik nafas lagi, mamah mulai tahan nafas di perut, dan mamah mulai ngeden panjang.

11.13 WIB

Dengan mata dan kepala sendiri, ayah ngeliat kepala Raka yang berlumur lendir dan darah, berwarna biru keungu-unguan keluar. Yang pertama keluar adalah kepalanya. (Ketika yang keluar bagian adalah kepala, ayah masih belom notice kalo itu adalah kepalanya. Ayah pikir itu kakinya, karena kepalanya kecil banget), terus badannya dan kakinya.
Selesai kaki raka keluar, pecahlah tangisan Raka di bumi...

Begitu ngeliat kepala dan badan Raka keluar, ayah udah nggak bisa nahan tangis. Ayah langsung nangis. Air mata langsung keluar tanpa bisa ditahan. Ayah langsung merinding, terharu, dan bahagia begitu melihat buah hati ayah keluar. Tangisan ayah bener-bener tangisan haru dan bahagia. Seumur hidup, ayah baru dua kali menangis yang spontan seperti ini. Yang pertama waktu ayah pertama kali meliat Ka’bah di Baitullah waktu ayah naek haji dulu, dan yang kedua adalah sekarang ini, yaitu pada saat ayah ngeliat dengan mata kepala sendiri lahirnya anak ayah, darah daging ayah keluar dari rahim mamah dengan diselimuti oleh darah dan lendir ibunya.

Ayah terharu melihat segala perjuangan mamah yang mempertaruhkan jiwanya hanya untuk anaknya, darah dagingnya, lahir dengan selamat, Terharu mendengar tangisan darah daging dan buah cinta kita pertama kali.

11.13 WIB

Setelah Raka keluar, Raka langsung diletakkan di perut ibunya, untuk kemudian dokter menggunting ari-ari Raka. Sama dengan ayah, begitu meliat dengan mata kepalanya sendiri Raka yang masih berlumuran darah dan lendir, air mata mamah langsung jatuh. Mamah langsung menangis mendengar dan melihat bayinya. Pada saat itu, ayah dan mamah bener-bener menangis sama-sama. Rasa haru, bahagia, dan semua perasaan suka, menyelimuti kita berdua. Dalam peluk dan cium, kita berdua menangis.

11.14 WIB

Badan Raka dilap oleh suster untuk dibersihkan darah dan lendir di tubuhnya. Setelah itu Raka dimasukkan ke kereta bayi untuk di Adzankan.

11.15-11.18 WIB

Masih dengan air mata, ayah mengumandangkan Adzan di telinga kanan Raka. Berkali-kali suara ayah tertahan. Dengan suara yang masih gemetar dan air mata di kedua mata ayah, ayah mencoba Adzan. Ayah pengen menjadi orang yang mengadzan dan mengQomadkan anaknya sendiri.

Begitu ayah mengumandangkan ”Allahhu Akbar Allahu Akbar...” Tangan Raka bergerak dan menyentuh pipi ayah. Melihat sentuhan sayang dari Raka tadi, kembali ayah menangis. Namun begitu, dengan sedikit tertahan karena air mata, gemetar dan haru, ayah melanjutkan lafadz Adzan untuk Raka. Berkali-kali juga, suara ayah sempat tertahan, ataupun bibir dan suara ayah bergetar terharu. Tapi Alhamdulillah, ayah bisa menyelesaikan adzannya. Ketika Qomad di telinga kiri, ayah sudah bisa sedikit mengendalikan emosi, dan dilafadzkan dengan sempurna.

11.20 WIB

Selanjutnya Raka digendong ke pelukan mamahnya untuk sementara.  Sekitar dua atau tiga menit, Raka dipelukan mamah, untuk kemudian Raka ditidurkan di kereta bayinya.

11.24 WIB

Sebelum dibawa ke kamar observasi bayi, ayah disuruh mencocokkan gelang biru (karena laki-laki) Raka dan mamah supaya tidak tertukar. Nomor gelang mamah dan Raka adalah 55507.

11.25 WIB

Setelah mamah dan raka dipasang gelangnya, Raka dibawa suster ke ruang observasi. Menurut suster, dalam jangka waktu satu jam, ayah dan mamah akan mengetahui keadaan Raka, berapa berat dan panjang badannya, normal atau tidak, dan semuanya tentang kondisi Raka.

11.20-11.40 WIB

Mamah dibius lokal untuk dilakukan penjahitan jalan lahir Raka yang tadi digunting dokter. Sebenarnya setelah mengAdzankan Raka, ayah sempat meliat dengan jelas jalan lahirnya Raka yang udah nggak berbentuk itu. Ayah ngeliat dengan jelas darah bercucuran disekitar jalan lahir Raka.

Untung dokter bram itu dokter yang baik. Sambil menghibur ayah dan mamah, dokter bram menjahit jalan lahir Raka dengan baik. Cukup banyak jahitan yang diterima mamah. Tapi dengan gayanya yang santai dan bersahabat, dokter mengajak kita ngobrol dan bercanda tentang proses persalinan tadi. Padahal sih maksudnya hanya untuk mengalihkan perhatian saja supaya kita berdua nggak khawatir dengan jahitan yang sedang dilakukan dokter.

Ayah tidak menghitung dan juga tidak menanyakan kepada dokter berapa pastinya jahitan mamah, tapi yang ayah tau jumlahnya pasti banyak. Karena meskipun kita ngobrol santai dan bercanda, tapi mata ayah tidak lepas dari jarum dan benang jahitan yang ada ditangan dokter Bram tadi. Untung dokter bram adalah dokter yang ahli, sehingga dengan santai dokter bram menjahit jalan lahirnya mamah

11.45 WIB

Proses jahit menjahit selesai. Dokter bram melepas sarung tangannya. Ayah dan mamah salaman dengan dokter bram, dan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuannya dalam proses kelahiran Raka

11.50-12.00 WIB

Suster membersihkan badan mamah, dan juga mengganti seprai, popok dan juga baju mamah yang berlumuran darah.

12.10 WIB

Mamah udah cantik lagi, tapi mamah masih lemes. Mamah istirahat ringan, sambil nunggu kedatangan Raka dari ruang observasi. Menurut suster, mamah baru bisa masuk ke kamar perawatan setelah dua jam dari proses persalinan. Jadi sekitar jam setengan dua siang mamah baru bisa masuk ke kamar perawatan. Sedangkan untuk Raka, baru bisa kumpul dengan mamah dan ayahnya sekitar satu jam setelah proses persalinan, karena harus diobservasi dulu

12.20 WIB

Makan siang mamah dateng. Mamah disuruh makan siang dulu.

12.30 WIB

Raka dateng dari ruang Observasi. Berat Badannya 3140 gram, tingginya 49 cm, kondisi normal. Alhamdulillah.

Ayah langsung berdiri dan liat-liatin Raka, dan mulai membanding-bandingkan, kira-kira Raka ini seperti siapa ya, mirip mamah atau mirip ayah yah....

13.15 WIB

Mamah dan Raka dibawah ke kamar perawatan

The End........*

Apa yang diceritakan diatas adalah garis besar yang ayah lihat dengan mata dan kepala ayah sendiri, dimana keadaan ayah yang belum tidur dari hari minggu pagi, atau 32 jam sebelumnya.

Mungkin ada beberapa bagian yang tidak atau belum diceritakan atau digambarkan. Yang pasti, prosesnya luar biasa... Saking luar biasanya, ayah sampai lupa untuk motret detik-detik kelahiran Raka.

Hendaknya para suami ikut dalam proses persalinan, agar kita, para suami bisa merasakan detik-detik perjuangan istri. Dengan meliat proses persalinan tersebut, rasa kasih sayang kepada keluarga, istri dan anak pasti akan bertambah. Dan kita juga pasti akan selalu bersyukur menerima kehadiran istri dan anak-anak kita, seberapa baik ataupun buruknya mereka. Karena dengan melihat dan mengingat perjuangan hidup dan mati seorang istri dalam melahirkan anaknya, darah dagingnya, kita pasti akan selalu bisa menerima, menyayangi dan mencintai pasangan dan keluarga kita seutuhnya.

Saya sengaja ikut proses persalinan istri tercinta, karena saya tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi pada istri ataupun anak saya dari proses ini. Kita tidak akan pernah tahu, apakah kita masih bisa bertemu dengan istri tercinta, atau malah dengan anak yang telah dikandung selama 9 bulan.

Sehingga, meskipun misalnya nanti hasilnya saya harus kehilangan salah satu dari orang terkasih (istri atau anak), saya ingin menjadi orang pertama yang melihat, menyaksikan dan menjadi saksi detik-detik yang mengharukan itu

Sekali lagi, dari proses persalinan yang mempertaruhkan nyawa ini, kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi pada keluarga kita

Untuk itu, jadikan proses pendampingan persalinan ini menjadi bentuk cinta dan kasih sayang kita kepada istri, seolah-olah kita akan merasakan dan memberikan cinta dan kasih sayang untuk yang terakhir kalinya...

Sayang dan cintailah ibu kita, karena mereka telah melahirkan kita dengan darah dan air mata, dan juga rela untuk mempertaruhkan nyawanya, semata-mata hanya untuk supaya kita, anaknya, lahir dengan selamat ke bumi ini...