Wednesday, December 19, 2007

Lulus Ujian Advokat

Reposted from previous friendster blog

Tanggal 4 Februari 2006 saya mengikut ujian Advokat. Ujian ini adalah ujian pertama kali yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) berdasarkan aturan UU No. 18 tahun 2003 tentang Advokat. Sebelumnya, penyelenggara advokat adalah pemerintah, bukannya organisasi advokat. Ujian ini merupakan salah satu syarat agar seorang Sarjana Hukum bisa berpraktek sebagai Advokat di Indonesia.

Untuk itu, ketika malam ditelepon oleh Hadi, sahabat FHUI yang kini bekerja di PERADI, bahwa hasil ujian Advokat sudah diumumkan di website PERADI (www.peradi.or.id), seketika itu juga saya langsung membuka internet dan, Alhamdulilah, hasilnya saya lulus.



Gembira sudah tentu. Dengan lulusnya ini, usaha saya untuk mendapat ijin praktek Advokat tinggal selangkah lagi. Sebagai seorang Sarjana Hukum, saya berharap besar dapat memiliki ijin tersebut, meski nyatanya belum tentu saya berkarir sebagai seorang Advokat. Wajar, karena sejak lulus dari FHUI hingga sekarang, saya tidak punya pengalaman bekerja di bidang yang berkaitan dengan masalah hukum. Terlebih, aktivitas saya sekarang jauh dari dunia hukum. Karenanya, masih panjang jalan bagi saya untuk dapat berprofesi sebagai Advokat.

Meski begitu, harapan untuk dapat berkarir sebagai Advokat masih tetap besar. Untuk sekarang, biarkanlah saya mempergunakannya untuk membela kepentingan hukum saya sendiri, atau setidaknya dapat membantu kepentingan hukum orang-orang terdekat.

Read More......

Cerita Rawabacang

Reposted from previous friendster blog

Sejak mengenal media e-mail, nama Rawabacang telah saya pakai sebagai alamatnya. Alasan menggunakan Rawabacang karena saat itu nama yang saya inginkan sudah ada yang memilikinya. Setelah dipikir ulang akhirnya saya menggunakan nama Rawabacang. Alasannya simpel, Rawabacang nama yang unik dan tidak sulit dieja.

Rawabacang sendiri merupakan nama kampung betawi tempat saya tinggal dari tahun 1994 hingga 2006. Saat pertama pindah, Rawabacang masih perkampungan asli. Akses jalan utamanya masih sirtu, alias pasir batu, dan belum tersentuh aspal sama sekali. Penduduk aslinya adalah orang-orang betawi asli yang hidupnya kian terpinggirkan dari Jakarta. Kami bertetangga dengan banyak keluarga betawi asli. Bapak di samping rumah, Pak Matdullah, kegiatannya mirip dengan karakter Babe di film si Doel anak Sekolah. Kerjaanya tidur-tiduran di kursi rotan panjang sambil jaga warung dan nunggu setoran angkot. Ada juga tetangga lain yang merupakan jagoan Rawabacang. Bapak itu mempunyai istri sampai empat orang, tapi tanahnya tersebar di daerah Rawabacang dan sekitarnya. Sangat tipikal orang betawi, jago silat dan memiliki tanah berhektar-hektar. Tapi yang luar biasa, Para pemudanya (pada saat itu). Setiap adzan maghrib, terutama malam jumat, pasti sholat berjemaah di mesjid yang dilanjutkan mengaji bersama. Padahal para pemuda itu, tidak beda dengan pemuda pada tahun 90-an, yaitu para pelaku tawuran pelajar yang ramai pada saat itu.
Selanjutnya, tidak banyak yang bisa diceritakan selain kehidupan kampungnya seperti kampung-kampung betawi lainnya yang tersebar di pinggiran Jakarta.

Tapi itu dulu...

Sekarang Rawabacang sudah berubah. Kampung Rawabacang sudah menjadi jalan alternatif di daerah Pondok Gede. Jalannya sudah di aspal dan cukup lebar karena bisa dilewati oleh 2 mobil. Di kanan kiri Rawabacang sudah banyak berdiri rumah kost-kostan. Para sepuh betawi sudah banyak yang meninggal. Pemuda aslinya sudah banyak yang tidak tinggal di Rawabacang. Sekarang Rawabacang banyak dihuni orang-orang perantauan yang bekerja di Jabotabek. Sudah banyak orang Pondok Gede yang mengetahui dimana Rawabacang itu.

Bagi saya yang menggunakan nama Rawabacang untuk alamat e-mail, selain mantan penghuni Rawabacang, saya pun rasanya turut punya andil mempopulerkan nama Rawabacang. Setidaknya, orang yang kenal dengan saya dan hendak meminta alamat e-mail, pasti akan bertanya ”Man, Rawabacang itu apa...?”
Saya jadi teringat pada teman kuliah saya di Hamburg dulu yang selalu memanggil saya dengan ”Rawabakang...”. Ya, Rawabakang. Itu karena mereka tidak bisa mengucapkan huruf c di Rawabacang.

Sekarang saya sudah bukan penghuni Rawabacang lagi. Tapi cerita tentang Rawabacang akan terus dikenang.

Read More......

Thursday, June 7, 2007

Detik-Detik Kelahiran Rakamulya... (Part 3)

Senin, 27 Februari 2006

10.20-10.35 WIB

Dokter bram nyuruh mamah nafas panjang. Mamah berusaha ngeden panjang supaya Raka bisa keluar. Perlahan tapi pasti kepala Raka udah mulai turun, tapi tetap belom pas juga. Ayah ngeliat dengan jelas dokter bram dengan tenangnya mulai menggunting-gunting jalan keluarnya Raka supaya jadi lebar. Darah segar muncrat dan mengalir dengan deras. Ayah ngilu, tapi ayah pengen liat keluarnya Raka dengan jelas. Disini ayah ngeliat luar biasanya perjuangan mamah. Wajar kalo surga ada ditelapak kali ibu.

Ayah bisa ngeliat dengan jelas perjuangan mamah hingga ke titik darah dan deru nafas penghabisan. Bayangin aja, mamah udah nggak ada tenaga, darah ngucur dengan deras, tapi mamah tetep disuruh ngeden yang butuh tenaga besar. Nyawa mamah bener-bener seperti udah di ujung tanduk. Kalo fisik mamah nggak kuat, mungkin pada saat itu mamah udah meninggal. Perasaan ayah udah bener-bener nggak karu-karuan. Mendengar suara mamah nahan sakit, muka udah biru, nafas yang udah tersengal-sengal, tapi masih disuruh ngeden, bener-benar perjuangan yang layak diganjar dengan surga. Mamah ngelakuin itu semua hanya supaya anaknya bisa lahir dengan selamat, tapi dengan mempertaruhkan nyawanya. Ayah udah bener-bener gemetar. Untung ayah nggak pingsan, meskipun darah ada dimana-mana.



10.39 WIB

Karena masih tetep nggak bisa keluar juga, dokter nganjurin untuk di vacum.

Di vacum itu dimasukin alat bulat yang pas dengan kepala bayi, terbuat dari bahan seperti besi dengan diameter sebesar paha orang dewasa ke jalan lahirnya mamah. Fungsinya supaya si bayi bisa keluar, tapi dengan mediasi alat bantuan. Prosesnya, alat vacum itu dimasukan ke jalan lahir mamah, kemudian ditempelkan ke kepala bayi, diputar di kepala bayi sampai tidak longgar lagi, kemudian kepala bayi yang sudah ditempel dengan alat vacum itu ditarik keluat perlahan lahan.

Ayah sempet nggak mau. Ayah sempet bilang, gimana kalo di Operasi SC aja, karena ayah takut kalo ada efek samping dengan si bayi. Tapi dokter optimis kalo mamah tetep masih bisa lahir normal, dan lahir dengan vacum nggak ada efek sampingnya. Kata dokter, nanti seandainya memang ada masalah, dokter pasti akan langsung operasi SC.

Dengan mata berkaca-kaca dan suara bergetar, Ayah sempet bilang ke dokter ”Dokter, tolong istri dan anak saya ya dok.... Saya benar-benar minta tolong supaya tidak terjadi apa-apa sama istri dan anak saya.... Saya percaya sama dokter aja, tolong berikan yang terbaik buat istri dan anak saya...”.

Dengan tenangnya dokter ngejawab ”Tenang aja pak, prosesnya udah bagus kok. Kalo ada apa-apa, kita langsung SC aja. Jangan khawatir...”

10.40 WIB

Suster nyiapin seluruh peralatan untuk vacum. Dokter juga udah siap-siap dengan gunting dan segala macamnya yang ayah nggak ngerti sama sekali

10.41 WIB

Proses Vacum dimulai

10.45-11.00 WIB

Alat vacum yang sebesar paha orang dewasa dimasukkan ke jalan lahir Raka. Bayangin aja, alat yang sebesar itu masuk ke jalan lahir yang sekecil itu. Otomatis, jalan lahir Raka, lagi-lagi dengan tenangnya digunting kanan kiri atas bawah sama dokter. Ayah ngeliat dengan jelas proses masuknya alat vacum ke jalan lahirnya mamah. Misalnya nggak muat, dokter akan gunting, kemudian pelan-pelan ditekan supaya masuk ke jalan lahir Raka. Ayah udah nggak tau lagi, gimana sakitnya mamah (tapi setelah proses melahirkan selesai, mamah bilang kalo mamah udah nggak bisa ngerasain sakit karena digunting. Menurut mamah, sakitnya mules supaya Raka bisa keluar jauh lebih sakit dibanding dengan sakitnya proses pengguntingan jalan lahirnya Raka. Tapi yang pasti, kata mamah sakitnya bener-bener luar biasa) 

Tahap pertama, mamah disuruh ngeden panjang, supaya dokter bisa masang alat vacum ke kepala Raka.

Tahap kedua, mamah disuruh ngeden panjang tiga kali, sebelum mamah kecapekan. Istirahat lima menit, mamah ngeden panjang lagi. Diusaha yang kedua, kepala Raka sudah bisa nempel dengan alat vacum, tapi tetep butuh bantuan tekanan dari ngedennya mamah. Mamah cuman bisa ngeden panjang tiga kali untuk kemudian istirahat kecapekan.

11.01-11.05 WIB

Di usaha yang ketiga, kata dokter kepala Raka udah bisa ketarik, dan Raka sebenarnya udah bisa keluar. Tapi karena nafas mamah udah nggak panjang lagi, tenaga mamah udah nggak maksimal lagi, akhirnya Raka masuk lagi, dan mamah istirahat dulu.

Tapi dokter bilang, diusaha yang keempat, Raka pasti keluar, karena kepalanya udah ketarik. Ngedenger janji dokter tadi, ayah langsung semangatin mamah supaya usaha lagi. Kali ini kalo bisa di maksimalkan. Mamah juga seneng denger berita dari dokter tadi dan langsung simpen tenaga supaya bisa maksimal di upaya yang keempat.

11.11 WIB

Upaya keempat penarikan Raka keluar dari rahim mamah dimulai. Ayah semangatin mamah, mamah juga udah siap-siap. Di ngeden pertama, tangan dokter udah siap menyambut kepala Raka. Tapi, mamah nggak kuat tahan nafas panjang, jadi nafasnya keluar lagi. Raka masuk lagi

11.12 WIB

Mamah cepet-cepet tarik nafas lagi, mamah mulai tahan nafas di perut, dan mamah mulai ngeden panjang.

11.13 WIB

Dengan mata dan kepala sendiri, ayah ngeliat kepala Raka yang berlumur lendir dan darah, berwarna biru keungu-unguan keluar. Yang pertama keluar adalah kepalanya. (Ketika yang keluar bagian adalah kepala, ayah masih belom notice kalo itu adalah kepalanya. Ayah pikir itu kakinya, karena kepalanya kecil banget), terus badannya dan kakinya.
Selesai kaki raka keluar, pecahlah tangisan Raka di bumi...

Begitu ngeliat kepala dan badan Raka keluar, ayah udah nggak bisa nahan tangis. Ayah langsung nangis. Air mata langsung keluar tanpa bisa ditahan. Ayah langsung merinding, terharu, dan bahagia begitu melihat buah hati ayah keluar. Tangisan ayah bener-bener tangisan haru dan bahagia. Seumur hidup, ayah baru dua kali menangis yang spontan seperti ini. Yang pertama waktu ayah pertama kali meliat Ka’bah di Baitullah waktu ayah naek haji dulu, dan yang kedua adalah sekarang ini, yaitu pada saat ayah ngeliat dengan mata kepala sendiri lahirnya anak ayah, darah daging ayah keluar dari rahim mamah dengan diselimuti oleh darah dan lendir ibunya.

Ayah terharu melihat segala perjuangan mamah yang mempertaruhkan jiwanya hanya untuk anaknya, darah dagingnya, lahir dengan selamat, Terharu mendengar tangisan darah daging dan buah cinta kita pertama kali.

11.13 WIB

Setelah Raka keluar, Raka langsung diletakkan di perut ibunya, untuk kemudian dokter menggunting ari-ari Raka. Sama dengan ayah, begitu meliat dengan mata kepalanya sendiri Raka yang masih berlumuran darah dan lendir, air mata mamah langsung jatuh. Mamah langsung menangis mendengar dan melihat bayinya. Pada saat itu, ayah dan mamah bener-bener menangis sama-sama. Rasa haru, bahagia, dan semua perasaan suka, menyelimuti kita berdua. Dalam peluk dan cium, kita berdua menangis.

11.14 WIB

Badan Raka dilap oleh suster untuk dibersihkan darah dan lendir di tubuhnya. Setelah itu Raka dimasukkan ke kereta bayi untuk di Adzankan.

11.15-11.18 WIB

Masih dengan air mata, ayah mengumandangkan Adzan di telinga kanan Raka. Berkali-kali suara ayah tertahan. Dengan suara yang masih gemetar dan air mata di kedua mata ayah, ayah mencoba Adzan. Ayah pengen menjadi orang yang mengadzan dan mengQomadkan anaknya sendiri.

Begitu ayah mengumandangkan ”Allahhu Akbar Allahu Akbar...” Tangan Raka bergerak dan menyentuh pipi ayah. Melihat sentuhan sayang dari Raka tadi, kembali ayah menangis. Namun begitu, dengan sedikit tertahan karena air mata, gemetar dan haru, ayah melanjutkan lafadz Adzan untuk Raka. Berkali-kali juga, suara ayah sempat tertahan, ataupun bibir dan suara ayah bergetar terharu. Tapi Alhamdulillah, ayah bisa menyelesaikan adzannya. Ketika Qomad di telinga kiri, ayah sudah bisa sedikit mengendalikan emosi, dan dilafadzkan dengan sempurna.

11.20 WIB

Selanjutnya Raka digendong ke pelukan mamahnya untuk sementara.  Sekitar dua atau tiga menit, Raka dipelukan mamah, untuk kemudian Raka ditidurkan di kereta bayinya.

11.24 WIB

Sebelum dibawa ke kamar observasi bayi, ayah disuruh mencocokkan gelang biru (karena laki-laki) Raka dan mamah supaya tidak tertukar. Nomor gelang mamah dan Raka adalah 55507.

11.25 WIB

Setelah mamah dan raka dipasang gelangnya, Raka dibawa suster ke ruang observasi. Menurut suster, dalam jangka waktu satu jam, ayah dan mamah akan mengetahui keadaan Raka, berapa berat dan panjang badannya, normal atau tidak, dan semuanya tentang kondisi Raka.

11.20-11.40 WIB

Mamah dibius lokal untuk dilakukan penjahitan jalan lahir Raka yang tadi digunting dokter. Sebenarnya setelah mengAdzankan Raka, ayah sempat meliat dengan jelas jalan lahirnya Raka yang udah nggak berbentuk itu. Ayah ngeliat dengan jelas darah bercucuran disekitar jalan lahir Raka.

Untung dokter bram itu dokter yang baik. Sambil menghibur ayah dan mamah, dokter bram menjahit jalan lahir Raka dengan baik. Cukup banyak jahitan yang diterima mamah. Tapi dengan gayanya yang santai dan bersahabat, dokter mengajak kita ngobrol dan bercanda tentang proses persalinan tadi. Padahal sih maksudnya hanya untuk mengalihkan perhatian saja supaya kita berdua nggak khawatir dengan jahitan yang sedang dilakukan dokter.

Ayah tidak menghitung dan juga tidak menanyakan kepada dokter berapa pastinya jahitan mamah, tapi yang ayah tau jumlahnya pasti banyak. Karena meskipun kita ngobrol santai dan bercanda, tapi mata ayah tidak lepas dari jarum dan benang jahitan yang ada ditangan dokter Bram tadi. Untung dokter bram adalah dokter yang ahli, sehingga dengan santai dokter bram menjahit jalan lahirnya mamah

11.45 WIB

Proses jahit menjahit selesai. Dokter bram melepas sarung tangannya. Ayah dan mamah salaman dengan dokter bram, dan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuannya dalam proses kelahiran Raka

11.50-12.00 WIB

Suster membersihkan badan mamah, dan juga mengganti seprai, popok dan juga baju mamah yang berlumuran darah.

12.10 WIB

Mamah udah cantik lagi, tapi mamah masih lemes. Mamah istirahat ringan, sambil nunggu kedatangan Raka dari ruang observasi. Menurut suster, mamah baru bisa masuk ke kamar perawatan setelah dua jam dari proses persalinan. Jadi sekitar jam setengan dua siang mamah baru bisa masuk ke kamar perawatan. Sedangkan untuk Raka, baru bisa kumpul dengan mamah dan ayahnya sekitar satu jam setelah proses persalinan, karena harus diobservasi dulu

12.20 WIB

Makan siang mamah dateng. Mamah disuruh makan siang dulu.

12.30 WIB

Raka dateng dari ruang Observasi. Berat Badannya 3140 gram, tingginya 49 cm, kondisi normal. Alhamdulillah.

Ayah langsung berdiri dan liat-liatin Raka, dan mulai membanding-bandingkan, kira-kira Raka ini seperti siapa ya, mirip mamah atau mirip ayah yah....

13.15 WIB

Mamah dan Raka dibawah ke kamar perawatan

The End........*

Apa yang diceritakan diatas adalah garis besar yang ayah lihat dengan mata dan kepala ayah sendiri, dimana keadaan ayah yang belum tidur dari hari minggu pagi, atau 32 jam sebelumnya.

Mungkin ada beberapa bagian yang tidak atau belum diceritakan atau digambarkan. Yang pasti, prosesnya luar biasa... Saking luar biasanya, ayah sampai lupa untuk motret detik-detik kelahiran Raka.

Hendaknya para suami ikut dalam proses persalinan, agar kita, para suami bisa merasakan detik-detik perjuangan istri. Dengan meliat proses persalinan tersebut, rasa kasih sayang kepada keluarga, istri dan anak pasti akan bertambah. Dan kita juga pasti akan selalu bersyukur menerima kehadiran istri dan anak-anak kita, seberapa baik ataupun buruknya mereka. Karena dengan melihat dan mengingat perjuangan hidup dan mati seorang istri dalam melahirkan anaknya, darah dagingnya, kita pasti akan selalu bisa menerima, menyayangi dan mencintai pasangan dan keluarga kita seutuhnya.

Saya sengaja ikut proses persalinan istri tercinta, karena saya tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi pada istri ataupun anak saya dari proses ini. Kita tidak akan pernah tahu, apakah kita masih bisa bertemu dengan istri tercinta, atau malah dengan anak yang telah dikandung selama 9 bulan.

Sehingga, meskipun misalnya nanti hasilnya saya harus kehilangan salah satu dari orang terkasih (istri atau anak), saya ingin menjadi orang pertama yang melihat, menyaksikan dan menjadi saksi detik-detik yang mengharukan itu

Sekali lagi, dari proses persalinan yang mempertaruhkan nyawa ini, kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi pada keluarga kita

Untuk itu, jadikan proses pendampingan persalinan ini menjadi bentuk cinta dan kasih sayang kita kepada istri, seolah-olah kita akan merasakan dan memberikan cinta dan kasih sayang untuk yang terakhir kalinya...

Sayang dan cintailah ibu kita, karena mereka telah melahirkan kita dengan darah dan air mata, dan juga rela untuk mempertaruhkan nyawanya, semata-mata hanya untuk supaya kita, anaknya, lahir dengan selamat ke bumi ini...



Read More......

Detik-Detik Kelahiran Rakamulya... (Part 2)

Senin, 27 Februari 2006

05.00-05.40 WIB
Setelah mencoba masuk lewat pintu utama, yang ternyata terkunci, ayah cepet-cepet lari ke ICU. Disana masih sepi, untung ada satpam yang kasih tau kalo bagian persalinan di lantai tiga (padahal ayah nggak nanya loh...). Ayah segera naek ke lantai tiga dan menemukan mamah lagi tidur di suatu tempat seperti ICUnya ruang persalinan (selanjutnya disebut ICU), tapi bukan kamar bersalin. Di ICU, mamah udah di pakein alat pengukur denyut bayi dan pengukur kontraksi bayi, yang diiket di perutnya mamah, mamah harus dalam posisis terlentang, dan kata suster mamah harus pake alat itu selama 30 menit. Pas masuk ICU itu, ternyata mamah udah pembukaan lima, which mean udah bentar lagi.
Selama pakai alat itu, mamah tersiksa. Udah gitu, setiap 5 menit sekali mamah ngerasain kontraksi, yang bikin mamah ngerasa kesakitan banget. Ayah dan Ne’ni cuman bisa mijitin punggung mamah, yang katanya udah kayak mau patah itu. Ayah bener-bener panik dan bingung gak tau mau ngapain, selain berdoa dan mijetin mamah. Ayah ngerasa kasian liat mamah yang harus kesakitan kayak gitu. Udah gitu, di kamar sebelah, ada ibu-ibu juga yang lagi kesakitan kayak mamah, tapi lebih heboh karena setiap 5 menit sekali ibu itu teriak-teriak kesakitan, yang sedikit banyak buat mamah ikutan teriak sekali-sekali. Kalo udah begitu, sekuat apapun usaha ayah untuk ngelucu jadi gak ada artinya, karena setiap ayah ngomong atau mencoba ngelucu, yang ada mamah marah-marah nyuruh ayah diem. Nasib....



05.45-06.15 WIB
Alat yang ditempel di perut mamah udah dilepas. Mamah disuruh sarapan bubur dulu, sebelum di suruh buang besar. Selesai B.A.B, dateng suster lagi yang meriksa udah pembukaan berapa. Dari hasil pemeriksaan yang kedua, ternyata mamah udah pembukaan delapan. Kata susternya sebentar lagi mau disuruh masuk ke kamar bersalin.

06.20-06.30 WIB
Mamah dipindahin ke kamar bersalin. Sambil nemenin pindah, ayah udah bener-bener takut dan panik. Beneran deh, pada saat mamah masuk ke kamar bersalin, ayah bener-bener takut kalo terjadi apa-apa sama mamah. Takut kalo proses persalinannya gagal, takut kalo terjadi apa-apa sama mamah atau sama bayinya. Semua perasaan khawatir itu campur aduk begitu ngeliat kamar bersalin, yang kurang lebih mirip kayak kamar operasi. Ada segala macam peralatan rumah sakit, seperti alat suntik dari berbagai macam ukuran, gunting, sarung tangan dan semua yang mengerikan.
Tapi biar ngeri kayak gitu ayah tetap sok kuat karena nggak pengen mamah jadi down semangatnya.

06.30-07.30 WIB
Di kamar bersalin, mamah dikasih oksigen. Di sini, suster nunggu sampai pembukaannya komplit, atau pembukaan sepuluh. Selama nunggu pembukaan sepuluh, mamah bener-bener ngerasa kesakitan. Ditambah lagi ibu yang teriak-teriak tadi semakin menjadi-jadi teriak kesakitan. Untung mamah sabar, nggak ikut-ikutan teriak. Ditemanin ayah yang selalu duduk disamping mamah, kita baca shalawat, sambil ayah terus pijitin punggungnya mamah dan bantu nyeka keringat yang udah kayak embun di pagi hari. Selama nunggu itu, mamah juga disuruh suster untuk ambil nafas panjang ala ibu hamil dan latihan ngeden.
Oia, di kamar bersalin, ada peraturan bahwa yang boleh nemenin pasien masuk ke kamar bersalin, cuman boleh satu orang, dan mamah minta ayah untuk nemenin.

07.30 WIB
Dokter Bram dateng untuk meriksa kondisi mamah. Ternyata mamah belum pembukaan sepuluh. Kata dokter, kita disuruh nunggu sampai pembukaannya sempurna.

07.50 WIB
Mamah pembukaannya udah sempurna.

07.55 WIB
Suster mulai mempersiapkan alat suntik dan segala macam gunting.

08.00 WIB
Sambil membawa suntikan, suster mau ngecek air ketuban mamah. Katanya mau dipecahin.

08.05-08.25 WIB
Air ketuban mamah pecah. Kata suster bentar lagi juga mamah udah melahirkan. Sambil nunggu, mamah disuruh ngeden. Tapi ternyata mamah nggak bisa ngeden panjang. Ngedennya mamah pendek. Selama 20 menit, sambil kaki disuruh dibuka lebar-lebar, mamah disuruh latihan ngeden panjang.
...”Tarik nafas panjang..... tahan di perut...... buang......”...
Ayah ikut ngebantu mamah latihan ngeden. Hasilnya, karena ayah ikutan ngeden, tiap lima menit sekali ayah ngacir ke WC buat pipis
Setiap ayah minta ijin ke WC, mamah marah-marah, lagi.....

08.30-08.35 WIB
Dokter bram dateng, nanya ke suster apakah kepala Raka udah masuk ke jalan lahir. Tapi ternyata kepala Raka masih agak tinggi, jadi belum masuk ke jalan lahir. Akhirnya dokter bram nyuruh suster kasih infus supaya mamah jadi tambah mules. Nanti setengah jam lagi dokter akan liat perkembangannya.
Btw, mamah udah pasrah, kesakitan, mules-mules, perutnya tegang karena kontraksi, kecapekan, dan semua rasa nggak enak campur jadi satu. Pengennya sih cepet lahir aja biar selesai sakitnya, tapi ternyata disuruh nunggu setengah jam lagi. Kata dokter, perkiraan mamah akan melahirkan sekitar jam 9 pagi.
Ayah udah diem aja, ngikutin apa kata dokter, sambil nahan pipis gara-gara ikut-ikutan ngeden.
Ibu yang dari tadi teriak udah melahirkan. Ibu itu hebat deh, dari pembukaan delapan ke pembukaan sepuluh cuman sepuluh menit, dan dalam jangka waktu lima menit setelah dokter meriksa, bayinya udah keluar dengan mudahnya.

08.40 WIB
Mamah di infus supaya mules. Infus pertama, aliran cairannya 12. Mamah udah menggeliat kesakitan. Meski AC di kamar (operasi) bersalin udah dingin, mamah keringetan.

08.45-09.00 WIB
Sambil dibantu suster dan ayah, mamah disuruh latihan ngeden yang panjang supaya kepala Raka bisa langsung ke jalan lahir. Tapi karena mamah nggak bisa ngeden panjang, kepala Raka jadi keluar masuk.

09.00 WIB
Karena udah setengah jam mules dan ngedennya mamah nggak optimal, aliran cairan infus naek jadi 20. Mamah udah bener-bener kesakitan. Bibir udah kering. Tangan ayah udah abis diremes-remes. Ayah udah benar-benar pasrah. Tapi juga pengen marah sama dokter yang nggak mulai-mulai

09.30 WIB
Dokter bram dateng lagi. Ayah pikir udah langsung dilakukan tindakan. Ternyata, cuman meriksa sebentar apakah udah bisa dimulai apa belum. Ayah udah mulai kesel. Abis kasihan liat mamah udah nahan sakit. Tapi kata dokter dia masih nunggu dulu, karena percuma kalo dipaksa sekarang, yang ada mamah hanya akan capek ngeden tapi hasilnya nggak maksimal karena kepala Raka masih agak jauh. Takutnya mamah pingsan kecapekan dan malah bahaya. Ayah jadi takut. Btw, aliran infus mamah udah naek jadi 24.

09.35-09.40 WIB
Suster ngelatih mamah ngeden. Mamah, dengan tenaga dan kekuatan yang minimal, berusaha untuk konsentrasi dan ngeden yang maksimal, supaya kepala Raka bisa masuk jalan lahir. Tapi masih belom juga. Aliran Infus naik ke 30

09.44 WIB
Suster meriksa mamah lagi. Kepala Raka udah mulai kaput (pucat/biru) karena air ketubannya udah lama pecah, pembukaannya udah lama sempurnya, udara luar udah mulai meniup Raka, kepala dan badan Raka udah mulai diselimutin darah dan lendir-lendir (mungkin air ketuban), tapi Raka masih juga belum bisa keluar. Denger kondisi Raka yang udah mulai kaput, dalam hati ayah udah mulai nangis dan berdoa supaya jangan sampe ada apa-apa sama Raka ataupun mamahnya. Mamah juga udah mulai sedih denger Raka udah mulai kaput. Aliran infus naik lagi jadi 36.

09.45-10.10 WIB
Mamah berusaha keras supaya raka bisa cepet keluat, tapi masih belum juga keluar. Sambil nahan nafas, muka mamah udah mulai ungu. Bibir udah kering banget. Tenaga mamah keliatan udah bener-bener abis, tapi mamah nggak mau nyerah. Perjuangan mamah bener-bener hebat. Mamah nggak mau nyerah, nggak mau dengan gampangnya minta operasi SC. Bayangin, tenaga, nafas, dan kekuatan udah nggak ada, tapi tetap berusaha supaya Raka yang udah mulai kaput itu bisa keluar. Luar Biasa...

10.15 WIB
Dengan baju operasi, dokter bram dateng, dan langsung membuka tempat tidur mamah menjadi suatu tempat untuk melakukan tindakan medis. Peralatan perang disiapkan, tiga suster disiagakan, gunting dan suntikan udah siap di meja operasi, lampu dinyalakan. Mamah udah pasrah, kaki disuruh diangkat. Udah nggak karu-karuan deh. Ayah cuman bisa berdoa dan megang tangan mamah sambil sedikit gemeteran.

10.20 WIB
Tindakan persalinan dimulai


Read More......

Detik-Detik Kelahiran Rakamulya... (Part 1)

Detik-detik kelahiran Raka merupakan cerita pengalaman saya dalam mendampingi istri tercinta dalam proses persalinan Raka. Pada saat proses persalinan tersebut saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana proses kelahiran raka, mulai dari mules, kontraksi, hingga perjuangan hidup mati untuk mengeluarkan Raka. Semoga postingan ini dapat terus tersimpan dan suatu hari bisa menjadi kenangan untuk Raka.



DETIK-DETIK KELAHIRAN RAKAMULYA

Sabtu, 25 Februari 2006

14.00-15.00 WIB
Ayah dan mamah masih berada di Giant, Lebak Bulus untuk belanja mingguan dan juga membeli popoknya Raka yang khusus untuk New Baby Born.

15.30-17.00 WIB
Ayah dan mamah janjian ketemu Financial Advisor di BakerzIn, Citos.

Minggu, 26 Februari 2006

13.00-13.30 WIB
Ayah dan mamah pergi ke Toko Hongkong di Fatmawati untuk bandingin harga-harga barang elektronik untuk rumah baru nanti.

14.00-14.30 WIB
Ayah dan mamah makan Steak di Blok S. Ketika menuju perjalanan pulang, ayah ngajakin mamah ke Mal Ambassador untuk cari HP baru untuk ngeganti HP ayah yang udah mulai rusak, tapi mamah keberatan dengan alasan capek.

20.30 WIB
Setelah makan malem, sholat, ngobrol dan pacaran, mamah udah mulai ngantuk, karena besok masih ngantor. Rencananya mamah baru mau cuti hari Rabu, tanggal 1 Maret.

21.00-24.00 WIB
Mamah masih tertidur pulas, sedangkan ayah lagi begadang di depan Laptop nyelesain kerjaan yang deadlinenya hari Rabu, 1 Maret 2006

Senin, 27 Februari 2006

00.10 WIB
Mamah mulai bangun sambil sedikit mules, dan langsung ke toilet. Katanya sih kebelet pipis. Ayah yang lagi sibuk di depan laptop hanya bisa bengong...

00.15-03.00 WIB
Ternyata mulesnya mamah beneran. Karena setelah mules yang pertama, selang setengah jam sekali dan turun jadi 20 menit sekali dalam jangka waktu 3 jam, mamah udah mulai mules-mules. Begitu liat keadaan seperti itu, ayah langsung berhenti kerja, dan mulai menjalankan tugasnya sebagai Suami Siaga (Siap-Antar-Jaga). Mamah bilang, besok pagi mamah mau ke dokter aja.

03.00 WIB
Mamah mules banget. Ayah mulai panik. Terus ayah langsung telepon neneknya Raka (Ne’ni) di kamar bawah sambil bilangin kalo mamah udah mulai mules, dan kalo bisa segera di bawa ke Rumah Sakit. Ne’ni nanya udah ada flek belom, tapi ternyata pada saat itu belom ada flek. Ya udah, kata Ne’ni nanti abis subuh saja kita ke Rumah Sakit, karena kemungkinan sekarang baru pembukaan awal.

03.00-04.00 WIB
Mamah udah bener-bener mules. Kali ini frekwensinya udah 15 sampai 10 menit sekali, dan kali ini udah mulai ada flek, udah banyak malah. Saking mulesnya, mamah sampe ketiduran di WC, katanya lebih enak posisinya. Ayah udah bener-bener panik... Mamah minta tolong ayah untuk ambil tasnya (isinya baju dan perlengkapan persalinan buat mamah, serta beberapa baju, selimut dan segala perlengkapan bayi untuk raka kalo pulang dari rumah sakit nanti) yang udah disiapin kalo sewaktu-waktu mamah mules. Ayah telepon Ne’ni lagi, dan ternyata Ne’ni juga udah siap. Ne’ni lagi bikinin roti dan telor buat sarapan ayah dan mamah, sambil juga ngebuatin air seduhan rumput fatimah dari Arab Saudi. Katanya sih supaya persalinannya lancar.

04.00-04.40 WIB
Setelah selesai mandi, sambil nunggu sholat subuh, ayah dan mamah siap-siap. Kalo mamah sih udah asli full mules, kalo ayah sibuk naek turun siapin sarapan buat mamah, dan siapin baju buat ayah. Setelah selesai sholat berjemaah, ayah nuntun mamah turun sambil bawa 3 tas besar, satu buat mamah, satu buat ayah dan satu lagi buat Raka. Di bawah Ne’ni udah siap dengan air seduhan rumput fatimah. Setelah minum sebentar, kita (ayah, mamah, dan Ne’ni) berangkat ke Rumah Sakit Pondok Indah

04.40-05.00 WIB
Perjalanan dari Pondok Gede ke Pondok Indah. Jalan Pondok Gede yang rusak abis bikin mobil goyang-goyang, dan itu bikin mamah marah, dan tanpa sadar mamah mukul tangan ayah. Geplakkk..... Mamah marah-marah, ”Udah tau istrinya lagi mules, ayah kok malah ngebut sih...!!!” omel mamah ke ayah. Ne’ni ikut-ikutan nyalahin ayah, sedangkan ayah cuman nyengir sambil nyalahin pemkot Bekasi, yang gara-gara dinas PU pemkot Bekasi gak mau memperbaiki jalan di Pondok Gede, ayah jadi kena omel..... Tapi begitu nyampe jalan tol, ayah langsung tancep gas... (Waktu berangkat, tarif jalan tol Pondok Gede-Pondok Indah masih Rp. 5000, tapi cuman berselang dua hari, 1 Maret 2006, tarifnya naek jadi Rp. 6000. Bujug dah...)

05.00 WIB
Kita nyampe di ICU RS Pondok Indah. Mamah dan Ne’ni turun, ayah cari parkir.

To be Continued...



Read More......

Saturday, May 12, 2007

The Beginning

Saya sebenarnya bukanlah orang yang suka menulis. Antara pikiran dan jemari terkadang sering tidak selaras menerjemahkan apa yang hendak saya tulis. Tidak heran jika tulisan serius saya terakhir kali adalah thesis untuk menyelesaikan studi Master Hukum di Belanda pada tahun 2001. Selanjutnya, bisa dibilang tidak ada.

Baru pada awal 2006, ketika mengetahui media blog, timbul keinginan untuk mencoba menulis. Isi tulisannya pun bukanlah hal yang serius, lebih banyak mengenai Raka, putra tercinta. Namun ternyata kegiatan menulis itu pun tidak berjalan lama. Tercatat 2 Agustus 2006 adalah tanggal tulisan terakhir saya di Blog Friendster. Mungkin karena pembosan maka saya tidak lagi menulis.

Entah kenapa, hari ini muncul lagi ide untuk menulis. Kali ini saya memutuskan untuk memindahkan media blog dari Friendster ke Blogspot. Ya, hitung-hitung ganti suasana. Alamat blognya pun ganti, tidak lagi Rawabacang, tetapi firmanyudiansyah sebagai alamatnya.

Tapi lagi, apakah dengan blog baru ini saya akan rajin menulis??? Entahlah, yang penting niat dulu kali ya...

Read More......