Tuesday, February 26, 2008

Kurang Ikhlas

Kegiatan rutin saya setiap bulan adalah memangkas rambut. Tukang pangkas langganan saya namanya pak Dadang. Asal dari cianjur, usia 51 tahun, anak 3. Akhir-akhir ini sering ikut kegiatan pengajian di mesjid rumahnya. "Maklum mas, saya kan sudah mulai tua, harus mulai inget yang diatas", ceritanya kepada saya. Hasil pangkasnya lumayan baik. Saya pun tak ragu menjadikannya tukang pangkas langgangan. Sehabis pangkas, uang tips tak segan saya berikan kepadanya. Penghargaan atas jasanya.

Karena sering melayani, kami pun menjadi akrab. Disela pemangkasan kita sering terlibat percakapan. Kadang dia yang bercerita, kadang saya yang bercerita. Karena akrab pulalah, saya perhatikan ada perbedaan jasa yang diberikan. Dengan minyak, setelah kegiatan pangkas rambut selesai, sekitar 15 menit kepala, leher, badan, tangan dan pundak saya dipijatnya. 15 menit adalah suatu waktu yang cukup lama. Biasanya 5 menit adalah waktu yang diberikannya kepada pelanggan biasa. Sungguh suatu jasa yang tidak semua pelanggannya terima.

Merasa rambut sudah mulai tebal, kemarin sore saya pangkas rambut. Tiba di barber shop pukul 17.00. Saat parkir, saya melihat seorang bapak usia 40 an akhir. Begitu turun dari kendaraannya, Toyota Alphard, ia kemudian masuk ke barber shop. Tak lama setelahnya, saya pun ikut masuk.

Ternyata saya terlambat lima menit saja. Pak dadang baru saja menerima bapak itu sebagai pelanggannya. Akhirnya saya menunggu di kursi tunggu. Sambil menunggu, saya memperhatikan pak dadang yang sedang mencukur bapak pemilik Toyota Alphard tadi. Dari penampilannya, terlihat sepertinya bukan tipe orang yang kekurangan uang. Beberapa merek terkenal terlihat melekat di tubuhnya.

Bapak itu nampaknya pelanggan baru di barber shop. Ketika pak dadang mencoba beramah tamah, ia hanya menjawab iya dan tidak. Seperti ada keengganan untuk beramah tamah. Entah karena terpukau dengan penampilannya atau memang pelanggan tetapnya, setelah pangkas pak dadang memijat bapak itu dengan seksama. Ada sekitar 10-15 menit pak dadang memijat bapak itu. Nyaman sekali melihatnya.

Selesai dipijat, selesai pulalah giliran bapak itu. Kemudian, saya pun dipersilahkan untuk duduk di kursi pangkasnya. Sambil merapihkan perabotan pangkasnya, saya perhatikan pak dadang seperti menunggu sesuatu.

Ya, uang tips lah yang ditunggunya.

Selesai membayar tidak terlihat reaksi dari bapak itu untuk memberikan uang tips. Ia malah menuju pintu ke luar untuk kemudian pulang.

Tidak sepeserpun uang tips yang diterima pak dadang.

Saya melihat raut muka khawatir di wajah pak dadang. Sambil terus menatap pintu keluar barber shop, terlihat wajah pak dadang mengharapkan bapak itu kembali lagi untuk memberikan tips kepadanya.

Tapi harapan tinggal harapan.

Satu dua menit pak dadang menunggu bapak itu, namun ia tetap tidak kembali lagi. Toyota Alphard yang membawanya pun mulai meninggalkan parkiran barber shop untuk pergi entah kemana.

Selama melayani saya, terlihat raut wajah kecewa bercampur kesal. Akhirnya iseng-iseng saya tegur pak dadang "kenapa cemberut? ditinggal pelanggan tanpa tips ya pak?".

Dengan tersenyum pak dadang pun membalas "Hehe, kok tau pak. Iya saya sebal dengan bapak tadi. Orang kaya tapi kok bisa sih nggak kasih tips ke saya".

"Makanya pak, kalo melayani orang itu ikhlas aja. Jangan ngarepin tips", " Katanya udah mulai ngaji, tapi kok masih begini aja" tukas saya ke pak dadang.

Mendengar itu, pak dadang hanya berujar" Iya sih pak, tapi kan boleh ngarepin tips. Itung-itung nambah uang dapur buat keluarga. Kalo dari gaji doang mah, gak cukup"

Kita berdua pun tertawa.


Read More......

Friday, February 22, 2008

Perencanaan Keuangan (Part 2)

Revised from previous friendster blog

Pada tulisan sebelumnya, saya mereview portfolio investasi yang ada. Cukup banyak kesalahan. Tapi memang itu kan tujuan dari review portfolio. Mengidentifikasi kesalahan dan memperbaikinya kemudian.

Dijelaskan sebelumnya, perencanaan yang dilakukan saat ini adalah mempersiapkan pendidikan Raka dan dana pensiun. Di blog friendster 2 tahun yang lalu saya pernah memposting ilustrasi sederhana rencana pendidikan raka yang dibuat oleh Ka Imbi sebagai berikut:



Penjelasannya sebagai berikut:
Dengan asumsi biaya saat ini, total biaya TK, SD, SMP, SMA dan Universitas (S-1) yang dibutuhkan kurang lebih Rp. 350 juta. Padahal jumlah sebesar itu baru dibutuhkan dalam rentang waktu 17 tahun. Dengan asumsi inflasi 12 % per tahun, future value Rp. 350 juta untuk 17 tahun lagi adalah Rp. 2.4 milyar rupiah. Suatu angka yang sangat besar, tapi menjadi target yang harus kita dapat. Terus terang, untuk sekarang kami tidak mampu.

Untuk mencapai target Rp. 2.4 Milyar selama 17 tahun, kita harus mem-present value-kan ke saat sekarang dengan asumsi imbal hasil 14%. Hasil present value, target angkanya adalah Rp. 260 juta. Memang masih besar. Jika punya uang sebesar itu sekarang, tentu saja kita bisa tenang karena langkah selanjutnya tinggal mencari produk investasi yang imbal hasil rata-ratanya 14%.

Tapi bagaimana jika kita tidak punya uang sebanyak itu?.

Tidak usah khawatir karena uang sebesar itu baru dibutuhkan selama rentang waktu 17 tahun. Yang perlu dilakukan adalah membagi Rp. 260 juta tadi dengan 17. Dari hasil pembagian itu didapat jumlah yang harus ditabung yaitu Rp. 15 juta pertahun, atau Rp. 1.3 juta perbulan.

Angka Rp. 1.3 juta menjadi angka target minimal menabung atau berinvestasi setiap bulannya untuk dapat memenuhi pendidikan Raka sesuai rencana. Jika masih dalam plafon income per bulan, ya bisa dimulai.

Setelah mengetahui plafond tabungan pendidikan raka perbulan, jika masih surplus dan dengan cara penghitungan diatas, barulah diatur rencana-rencana masa depan lainnya, seperti pensiun, pergi haji, buka usaha, dan lainnya. Tinggal ditetapkan saja dasar asumsinya. Rencana pensiun misalnya, usia berapa mau pensiun, berapa biaya hidup perbulan selama pensiun, dan lainnya.


Read More......

Tuesday, February 19, 2008

Perencanaan Keuangan (Part 1)

Revised from previous friendster blog

Dua hari sebelum kelahiran Raka, saya dan mominga sempat berkonsultasi ke Ka Imbi, sahabat keluarga yang seorang Licensed Investment Manager. Concern kami saat itu adalah perencanaan keuangan untuk asuransi pendidikan Raka (dan adiknya nanti) dan dana pensiun kami berdua.

Kita berkonsultasi karena ketidaktahuan cara berinvestasi yang baik dan menguntungkan. Saat itu portfolio investasi kita hanya deposito, yang imbal hasilnya cenderung dibawah inflasi dan masih dipotong pajak pula

Menurut Ka Imbi, gaya pengelolaan keuangan kita selama ini sudah cukup baik, dengan menyisihkan sekian persen dari penghasilan untuk ditabung atau diinvestasikan. Sayangnya, portfolio investasi yang dipilih tidak maksimal memberikan imbal hasil untuk menutupi keperluan dan kebutuhan di masa depan.

Saat itu, 80% dari aset cash kita ada di deposito yang imbal hasilnya sebelum dipotong pajak hanya sekitar 6-9% saja. Jika dibandingkan dengan inflasi tahunan (yang tahun 2005 saja mencapai 17%) berarti hasil investasi setiap tahunnya berkurang termakan inflasi.

Memang ada 20% lagi dalam unit link. Tapi karena tidak paham, pengaturan penempatannya salah. Saat itu kita punya tiga rekening unit link, tiga tabungan pendidikan dan satu asuransi jiwa (whole life). Dana di unit link tiga-tiganya diinvestasikan secara konservatif, atau ditanam di pasar uang yang imbal hasilnya kecil namun dengan resiko yang rendah pula.

Mempunyai rekening unit link sampai tiga buah adalah suatu kesalahan perencanaan keuangan yang cukup fatal.

Saat membuka tiga rekening itu saya berpikirnya dangkal sekali. Dengan tiga rekening, jika terjadi sesuatu dengan saya atau mominga maka dana yang di dapat oleh ahli waris akan bertambah besar pula.

Hitungannya, selain mendapat hasil investasi ditambah imbal hasil ahli waris juga akan mendapat tambahan perlindungan asuransi dari masing-masing rekening, yang nilai per rekeningnya sekitar Rp. 100 – 200 jutaan. Dengan mempunyai tiga rekening berarti total perlindungannya menjadi sekitar Rp. 500 jutaan, diluar hasil investasi masing-masing rekening.

Jika melihat dari sisi itu mungkin benar. Tapi tahukah berapa premi yang harus dibayar pertahun untuk mendapatkan perlindungan Rp. 500 juta ditambah hasil investasi Rp. 130 juta dalam waktu 10 tahun? Jawabannya Rp. 12 juta pertahun, atau Rp. 4 juta per rekening. Rp. 12 juta per tahun berarti Rp. 1 juta perbulan (Di umur 30 tahun, jika memilih asuransi yang tepat untuk perlindungan sebesar Rp. 500 juta sebenarnya cukup membayar premi Rp. 1 juta perTAHUNnya).

Belum lagi pemotongan nilai investasi di 5 tahun pertama untuk pembayaran premi asuransi. Dengan adanya pemotongan tadi, hasil investasi pada 5 tahun pertama akan lebih kecil dari premi yang dibayarkan. Nilainya baru sama pada tahun ke 6.

Jadi, mempunyai tiga rekening unit link adalah suatu kesalahan.

Begitu juga asuransi jiwa whole life. Maksud dari asuransi ini adalah premi yang dibayarkan tiap tahun tidak akan hangus. Sehingga jika dalam jangka waktu 20 tahun tidak terjadi sesuatu, kita akan mendapatkan uang premi yang dibayarkan ditambah bonus pengganti imbal hasil. Menggiurkan bukan.

Terlebih jika dibandingkan dengan asuransi jiwa term life. Di asuransi ini premi yang dibayarkan akan hangus. Sehingga jika dalam jangka waktu 20 tahun tidak terjadi apa-apa, kita tidak mendapatkan apa-apa.

Untuk orang Indonesia, marketing gimmick seperti pada asuransi term life tentu kurang laku. Sebaliknya, marketing gimmick asuransi whole lifelah yang disukai orang. Mengingat premi yang dibayarkan tidak hilang, orang menganggap premi itu sebagai tabungan hari tua.

PADAHAL, tahukah bahwa jumlah premi yang dibayarkan untuk mendapatkan perlindungan dengan nilai yang sama pada kedua jenis asuransi ini bedanya bisa 500% lebih besar.

Dengan asumsi usia 30 tahun, pada asuransi whole Life dengan perlindungan Rp. 1 milyar, setiap tahunnya harus membayar premi Rp. 10 juta. Sedangkan pada asuransi term life, untuk nilai perlindungan yang sama, setiap tahunnya cukup membayar Rp. 2 juta saja.

Memang, pada asuransi term life jika dalam jangka waktu 20 tahun tidak terjadi sesuatu kita tidak mendapatkan apa-apa. Alias premi kita hangus begitu saja. Tapi memang itu kan tujuan dari Asuransi?. Melindungi diri kita, sumber penghasilan keluarga, dari ketidakpastian. Agar, jika kelak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, keluarga yang ditinggalkan tetap dapat menjalankan hidup dan pendidikan dengan layak.

Tujuan saya berasuransi adalah agar pendidikan Raka bisa selesai. Minimal S-2. Jadi jika selama masa Pendidikan Raka tersebut terjadi sesuatu dengan saya atau mominga, pendidikan Raka tidak akan terhenti karena faktor biaya. Perlindungan asuransi yang akan didapat oleh ahli waris dapat bermanfaat untuk membiayai pendidikan dan biaya hidup sampai masa pendidikannya selesai.

Namun jika dalam 20 tahun ke depan tidak terjadi sesuatu dengan saya atau mominga sehingga, Insya Allah, pendidikan Raka dapat selesai dan bisa mempunyai penghasilan sendiri untuk membiayai pangan, sandang dan papannya, cukup sudah kewajiban saya dan mominga, selaku orang tua, untuk membiayai pendidikan Raka. Jika ada rejeki dan mampu, mungkin saya bisa memberikan rumah, kendaraan atau lainnya kepada Raka. Tapi itu bukanlah kewajiban.

Sedangkan pada asuransi whole life, jika dalam jangka waktu 20 tahun tidak terjadi sesuatu, pada tahun ke 20 kita akan mendapatkan uang Rp. 200 jutaan, atau ekuivalen dengan premi per tahun dikali 20. Biasanya masih mendapatkan bonus lain, tapi paling Rp. 10 -50 juta saja. Hingga keseluruhannya bisa mendapat Rp. 200 – 250 juta.

Tapi untuk apa Rp. 250 juta pada tahun ke 20, yang jika di future valuekan paling hanya akan bernilai Rp. 15 juta sekarang. Apa sih yang bisa dilakukan dengan uang sebesar itu?. Membeli mobil atau rumah pun tidak bisa.

Coba jika selisih premi tadi (Rp.10 juta – Rp. 2 Juta = Rp. 8 Juta atau Rp. 160 juta per 20 tahun) diinvestasikan pada portfolio investasi yang tepat dan mampu menghasilkan 15-20% pertahun. Dalam 20 tahun, Rp. 160 juta ini dapat berkembang menjadi Rp. 1.5 milyar.

Pelajaran yang dipetik dari pengalaman diatas, cara merencanaan keuangan yang tepat adalah melindungi diri kita dengan memilih bentuk dan dari perusahaan asuransi yang tepat, serta menginvestasikan dana kita dengan portfolio dan dari perusahaan investasi yang benar sehingga dapat memberikan imbal hasil maksimal namun biaya minimal.

Jadi jangan salah kaprah. Beli asuransi kok mengharapkan hasil investasi, atau berinvestasi kok di perusahaan asuransi. Ya mahal lah!!.

Read More......

Teman Kami, Teman Keluarga

Saya dan mominga sebelum menikah mempunyai lingkungan pertemanan masing-masing. Saya dengan lingkungan FHUI dan Mandiri atau mominga dengan lingkungan FTUI, misalnya. Setelah menikah baru mominga kenal dengan beberapa teman saya dan sebaliknya. Setelah menikah pula kami mengenal istilah Teman Keluarga. Teman Keluarga adalah teman-teman yang sebenarnya hanya teman saya atau teman mominga, atau malah temannya Raka, yang sekarang menjadi teman kita semua.

Minggu lalu ada teman FHUI yang datang ke rumah. Bersilaturahmi sekalian minta dukungan atas rencananya menjadi anggota DPR-RI. Sebagai teman tentu saya mendukung rencana tersebut. Sayangnya, kemampuan saya hanya sekedar mendukung dan belum bisa menolong yang lain. Tapi tak mengapa, urusan dukung mendukung selesai.

Meski begitu ada yang cukup mengganggu dari kehadiran teman tersebut.

Jika sedang bermain di bawah, setiap kali bel rumah berbunyi Raka pasti akan menyambut semua tamu yang datang. Biasanya Raka akan mengajak bicara, atau mengeluarkan semua mainannya untuk dipamerkan, atau nyanyi-nyanyi sendiri yang intinya mencari perhatian tamu. Memang itulah kebiasaan Raka yang tidak pernah kami larang karena Raka hanya mencoba ramah terhadap tamu yang datang.

Jika kami perhatikan dari tamu atau teman yang datang ke rumah, banyak yang setidaknya menegur atau membalas perhatian Raka. Kami sangat hormat kepada tamu atau teman seperti ini karena mau bersikap ramah dengan keluarga kami.

Tapi ada juga yang tak perduli kepada kelakuan Raka. Bapak pegawai kelurahan yang mengurus KTP dan KK kami, misalnya. Bapak tersebut cuek saja dengan kehadiran Raka. Dia malah sibuk bercerita tentang susahnya bikin KTP jaman sekarang, yang ujung-ujungnya malah mencoba memberi kesan kalo bikin KTP sekarang ini mahal dan jika minta tolong pake jasa dia akan sedikit lebih murah dari harga pasaran.

Terhadap orang seperti ini, kami biasanya malas menghadapinya.

Kembali kepada teman FHUI calon anggota DPR tadi. Sedihnya, teman tadi ternyata berkelakuan hampir serupa dengan Bapak pegawai kelurahan. Ketika Raka menyambutnya, kalimat yang terucap hanyalah, "Umur berapa anak lo sekarang man?". Sesudah itu hampir tak ada perhatian lagi.

Teman itu hanya sibuk bercerita tentang rencana, visi misi dan dukungan yang dibutuhkan untuk menjadi anggota Dewan (Ironisnya, teman ini dulunya aktif mengkritik orde baru tapi sekarang fasih berbicara investasi politik). Saat Raka datang bawa mainan untuk dipamerkan, teman itu asik bercerita tentang penggalangan dukungan yang sedang dia lakukan. Saat Raka datang bawa donat sambil mulutnya belepotan coklat, teman tersebut sedang seru menceritakan bahwa dia calon jadi nomor urut satu wilayah banten dari salah satu partai berbasis agama. Terus seperti itu tanpa perduli akan kehadiran Raka karena sedang asyik sendiri meyakinkan bahwa dia calon jadi anggota DPR-RI.

Yang menjadi perhatian saya sebenarnya bukanlah tentang rencana politiknya. Kalo tentang itu, sudah cukup banyak orang yang datang minta dukungan dan bantuan. Yang menggangu saya adalah ketidakperdulian teman itu kepada Raka. Bagi saya, jika ada teman yang ingin berteman dengan saya, berarti dia juga harus mau berteman dengan mominga dan Raka. Ya, dengan kami sekeluarga. Kalo dia keberatan, saya pun rasanya keberatan untuk akrab dengannya.

Dari dulu, jika saya punya teman, pasti teman tersebut juga akan diajak akrab dengan orang-orang terdekat saya.

Ika, contohnya. Sahabat saya di Mandiri. Dia adalah salah satu sahabat keluarga kami. Selain akrab dengan saya, Ika juga akrab dengan mominga atau raka.

Jadi tidak ada ceritanya dalam keluarga kami orang yang akrab dengan saya tapi tidak mau beramah-tamah dengan Raka atau mominga.

Karena Teman Kami, berarti Teman Keluarga. Tanpa kecuali.

Read More......

Wednesday, December 19, 2007

Lulus Ujian Advokat

Reposted from previous friendster blog

Tanggal 4 Februari 2006 saya mengikut ujian Advokat. Ujian ini adalah ujian pertama kali yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) berdasarkan aturan UU No. 18 tahun 2003 tentang Advokat. Sebelumnya, penyelenggara advokat adalah pemerintah, bukannya organisasi advokat. Ujian ini merupakan salah satu syarat agar seorang Sarjana Hukum bisa berpraktek sebagai Advokat di Indonesia.

Untuk itu, ketika malam ditelepon oleh Hadi, sahabat FHUI yang kini bekerja di PERADI, bahwa hasil ujian Advokat sudah diumumkan di website PERADI (www.peradi.or.id), seketika itu juga saya langsung membuka internet dan, Alhamdulilah, hasilnya saya lulus.



Gembira sudah tentu. Dengan lulusnya ini, usaha saya untuk mendapat ijin praktek Advokat tinggal selangkah lagi. Sebagai seorang Sarjana Hukum, saya berharap besar dapat memiliki ijin tersebut, meski nyatanya belum tentu saya berkarir sebagai seorang Advokat. Wajar, karena sejak lulus dari FHUI hingga sekarang, saya tidak punya pengalaman bekerja di bidang yang berkaitan dengan masalah hukum. Terlebih, aktivitas saya sekarang jauh dari dunia hukum. Karenanya, masih panjang jalan bagi saya untuk dapat berprofesi sebagai Advokat.

Meski begitu, harapan untuk dapat berkarir sebagai Advokat masih tetap besar. Untuk sekarang, biarkanlah saya mempergunakannya untuk membela kepentingan hukum saya sendiri, atau setidaknya dapat membantu kepentingan hukum orang-orang terdekat.

Read More......

Cerita Rawabacang

Reposted from previous friendster blog

Sejak mengenal media e-mail, nama Rawabacang telah saya pakai sebagai alamatnya. Alasan menggunakan Rawabacang karena saat itu nama yang saya inginkan sudah ada yang memilikinya. Setelah dipikir ulang akhirnya saya menggunakan nama Rawabacang. Alasannya simpel, Rawabacang nama yang unik dan tidak sulit dieja.

Rawabacang sendiri merupakan nama kampung betawi tempat saya tinggal dari tahun 1994 hingga 2006. Saat pertama pindah, Rawabacang masih perkampungan asli. Akses jalan utamanya masih sirtu, alias pasir batu, dan belum tersentuh aspal sama sekali. Penduduk aslinya adalah orang-orang betawi asli yang hidupnya kian terpinggirkan dari Jakarta. Kami bertetangga dengan banyak keluarga betawi asli. Bapak di samping rumah, Pak Matdullah, kegiatannya mirip dengan karakter Babe di film si Doel anak Sekolah. Kerjaanya tidur-tiduran di kursi rotan panjang sambil jaga warung dan nunggu setoran angkot. Ada juga tetangga lain yang merupakan jagoan Rawabacang. Bapak itu mempunyai istri sampai empat orang, tapi tanahnya tersebar di daerah Rawabacang dan sekitarnya. Sangat tipikal orang betawi, jago silat dan memiliki tanah berhektar-hektar. Tapi yang luar biasa, Para pemudanya (pada saat itu). Setiap adzan maghrib, terutama malam jumat, pasti sholat berjemaah di mesjid yang dilanjutkan mengaji bersama. Padahal para pemuda itu, tidak beda dengan pemuda pada tahun 90-an, yaitu para pelaku tawuran pelajar yang ramai pada saat itu.
Selanjutnya, tidak banyak yang bisa diceritakan selain kehidupan kampungnya seperti kampung-kampung betawi lainnya yang tersebar di pinggiran Jakarta.

Tapi itu dulu...

Sekarang Rawabacang sudah berubah. Kampung Rawabacang sudah menjadi jalan alternatif di daerah Pondok Gede. Jalannya sudah di aspal dan cukup lebar karena bisa dilewati oleh 2 mobil. Di kanan kiri Rawabacang sudah banyak berdiri rumah kost-kostan. Para sepuh betawi sudah banyak yang meninggal. Pemuda aslinya sudah banyak yang tidak tinggal di Rawabacang. Sekarang Rawabacang banyak dihuni orang-orang perantauan yang bekerja di Jabotabek. Sudah banyak orang Pondok Gede yang mengetahui dimana Rawabacang itu.

Bagi saya yang menggunakan nama Rawabacang untuk alamat e-mail, selain mantan penghuni Rawabacang, saya pun rasanya turut punya andil mempopulerkan nama Rawabacang. Setidaknya, orang yang kenal dengan saya dan hendak meminta alamat e-mail, pasti akan bertanya ”Man, Rawabacang itu apa...?”
Saya jadi teringat pada teman kuliah saya di Hamburg dulu yang selalu memanggil saya dengan ”Rawabakang...”. Ya, Rawabakang. Itu karena mereka tidak bisa mengucapkan huruf c di Rawabacang.

Sekarang saya sudah bukan penghuni Rawabacang lagi. Tapi cerita tentang Rawabacang akan terus dikenang.

Read More......

Thursday, June 7, 2007

Detik-Detik Kelahiran Rakamulya... (Part 3)

Senin, 27 Februari 2006

10.20-10.35 WIB

Dokter bram nyuruh mamah nafas panjang. Mamah berusaha ngeden panjang supaya Raka bisa keluar. Perlahan tapi pasti kepala Raka udah mulai turun, tapi tetap belom pas juga. Ayah ngeliat dengan jelas dokter bram dengan tenangnya mulai menggunting-gunting jalan keluarnya Raka supaya jadi lebar. Darah segar muncrat dan mengalir dengan deras. Ayah ngilu, tapi ayah pengen liat keluarnya Raka dengan jelas. Disini ayah ngeliat luar biasanya perjuangan mamah. Wajar kalo surga ada ditelapak kali ibu.

Ayah bisa ngeliat dengan jelas perjuangan mamah hingga ke titik darah dan deru nafas penghabisan. Bayangin aja, mamah udah nggak ada tenaga, darah ngucur dengan deras, tapi mamah tetep disuruh ngeden yang butuh tenaga besar. Nyawa mamah bener-bener seperti udah di ujung tanduk. Kalo fisik mamah nggak kuat, mungkin pada saat itu mamah udah meninggal. Perasaan ayah udah bener-bener nggak karu-karuan. Mendengar suara mamah nahan sakit, muka udah biru, nafas yang udah tersengal-sengal, tapi masih disuruh ngeden, bener-benar perjuangan yang layak diganjar dengan surga. Mamah ngelakuin itu semua hanya supaya anaknya bisa lahir dengan selamat, tapi dengan mempertaruhkan nyawanya. Ayah udah bener-bener gemetar. Untung ayah nggak pingsan, meskipun darah ada dimana-mana.



10.39 WIB

Karena masih tetep nggak bisa keluar juga, dokter nganjurin untuk di vacum.

Di vacum itu dimasukin alat bulat yang pas dengan kepala bayi, terbuat dari bahan seperti besi dengan diameter sebesar paha orang dewasa ke jalan lahirnya mamah. Fungsinya supaya si bayi bisa keluar, tapi dengan mediasi alat bantuan. Prosesnya, alat vacum itu dimasukan ke jalan lahir mamah, kemudian ditempelkan ke kepala bayi, diputar di kepala bayi sampai tidak longgar lagi, kemudian kepala bayi yang sudah ditempel dengan alat vacum itu ditarik keluat perlahan lahan.

Ayah sempet nggak mau. Ayah sempet bilang, gimana kalo di Operasi SC aja, karena ayah takut kalo ada efek samping dengan si bayi. Tapi dokter optimis kalo mamah tetep masih bisa lahir normal, dan lahir dengan vacum nggak ada efek sampingnya. Kata dokter, nanti seandainya memang ada masalah, dokter pasti akan langsung operasi SC.

Dengan mata berkaca-kaca dan suara bergetar, Ayah sempet bilang ke dokter ”Dokter, tolong istri dan anak saya ya dok.... Saya benar-benar minta tolong supaya tidak terjadi apa-apa sama istri dan anak saya.... Saya percaya sama dokter aja, tolong berikan yang terbaik buat istri dan anak saya...”.

Dengan tenangnya dokter ngejawab ”Tenang aja pak, prosesnya udah bagus kok. Kalo ada apa-apa, kita langsung SC aja. Jangan khawatir...”

10.40 WIB

Suster nyiapin seluruh peralatan untuk vacum. Dokter juga udah siap-siap dengan gunting dan segala macamnya yang ayah nggak ngerti sama sekali

10.41 WIB

Proses Vacum dimulai

10.45-11.00 WIB

Alat vacum yang sebesar paha orang dewasa dimasukkan ke jalan lahir Raka. Bayangin aja, alat yang sebesar itu masuk ke jalan lahir yang sekecil itu. Otomatis, jalan lahir Raka, lagi-lagi dengan tenangnya digunting kanan kiri atas bawah sama dokter. Ayah ngeliat dengan jelas proses masuknya alat vacum ke jalan lahirnya mamah. Misalnya nggak muat, dokter akan gunting, kemudian pelan-pelan ditekan supaya masuk ke jalan lahir Raka. Ayah udah nggak tau lagi, gimana sakitnya mamah (tapi setelah proses melahirkan selesai, mamah bilang kalo mamah udah nggak bisa ngerasain sakit karena digunting. Menurut mamah, sakitnya mules supaya Raka bisa keluar jauh lebih sakit dibanding dengan sakitnya proses pengguntingan jalan lahirnya Raka. Tapi yang pasti, kata mamah sakitnya bener-bener luar biasa) 

Tahap pertama, mamah disuruh ngeden panjang, supaya dokter bisa masang alat vacum ke kepala Raka.

Tahap kedua, mamah disuruh ngeden panjang tiga kali, sebelum mamah kecapekan. Istirahat lima menit, mamah ngeden panjang lagi. Diusaha yang kedua, kepala Raka sudah bisa nempel dengan alat vacum, tapi tetep butuh bantuan tekanan dari ngedennya mamah. Mamah cuman bisa ngeden panjang tiga kali untuk kemudian istirahat kecapekan.

11.01-11.05 WIB

Di usaha yang ketiga, kata dokter kepala Raka udah bisa ketarik, dan Raka sebenarnya udah bisa keluar. Tapi karena nafas mamah udah nggak panjang lagi, tenaga mamah udah nggak maksimal lagi, akhirnya Raka masuk lagi, dan mamah istirahat dulu.

Tapi dokter bilang, diusaha yang keempat, Raka pasti keluar, karena kepalanya udah ketarik. Ngedenger janji dokter tadi, ayah langsung semangatin mamah supaya usaha lagi. Kali ini kalo bisa di maksimalkan. Mamah juga seneng denger berita dari dokter tadi dan langsung simpen tenaga supaya bisa maksimal di upaya yang keempat.

11.11 WIB

Upaya keempat penarikan Raka keluar dari rahim mamah dimulai. Ayah semangatin mamah, mamah juga udah siap-siap. Di ngeden pertama, tangan dokter udah siap menyambut kepala Raka. Tapi, mamah nggak kuat tahan nafas panjang, jadi nafasnya keluar lagi. Raka masuk lagi

11.12 WIB

Mamah cepet-cepet tarik nafas lagi, mamah mulai tahan nafas di perut, dan mamah mulai ngeden panjang.

11.13 WIB

Dengan mata dan kepala sendiri, ayah ngeliat kepala Raka yang berlumur lendir dan darah, berwarna biru keungu-unguan keluar. Yang pertama keluar adalah kepalanya. (Ketika yang keluar bagian adalah kepala, ayah masih belom notice kalo itu adalah kepalanya. Ayah pikir itu kakinya, karena kepalanya kecil banget), terus badannya dan kakinya.
Selesai kaki raka keluar, pecahlah tangisan Raka di bumi...

Begitu ngeliat kepala dan badan Raka keluar, ayah udah nggak bisa nahan tangis. Ayah langsung nangis. Air mata langsung keluar tanpa bisa ditahan. Ayah langsung merinding, terharu, dan bahagia begitu melihat buah hati ayah keluar. Tangisan ayah bener-bener tangisan haru dan bahagia. Seumur hidup, ayah baru dua kali menangis yang spontan seperti ini. Yang pertama waktu ayah pertama kali meliat Ka’bah di Baitullah waktu ayah naek haji dulu, dan yang kedua adalah sekarang ini, yaitu pada saat ayah ngeliat dengan mata kepala sendiri lahirnya anak ayah, darah daging ayah keluar dari rahim mamah dengan diselimuti oleh darah dan lendir ibunya.

Ayah terharu melihat segala perjuangan mamah yang mempertaruhkan jiwanya hanya untuk anaknya, darah dagingnya, lahir dengan selamat, Terharu mendengar tangisan darah daging dan buah cinta kita pertama kali.

11.13 WIB

Setelah Raka keluar, Raka langsung diletakkan di perut ibunya, untuk kemudian dokter menggunting ari-ari Raka. Sama dengan ayah, begitu meliat dengan mata kepalanya sendiri Raka yang masih berlumuran darah dan lendir, air mata mamah langsung jatuh. Mamah langsung menangis mendengar dan melihat bayinya. Pada saat itu, ayah dan mamah bener-bener menangis sama-sama. Rasa haru, bahagia, dan semua perasaan suka, menyelimuti kita berdua. Dalam peluk dan cium, kita berdua menangis.

11.14 WIB

Badan Raka dilap oleh suster untuk dibersihkan darah dan lendir di tubuhnya. Setelah itu Raka dimasukkan ke kereta bayi untuk di Adzankan.

11.15-11.18 WIB

Masih dengan air mata, ayah mengumandangkan Adzan di telinga kanan Raka. Berkali-kali suara ayah tertahan. Dengan suara yang masih gemetar dan air mata di kedua mata ayah, ayah mencoba Adzan. Ayah pengen menjadi orang yang mengadzan dan mengQomadkan anaknya sendiri.

Begitu ayah mengumandangkan ”Allahhu Akbar Allahu Akbar...” Tangan Raka bergerak dan menyentuh pipi ayah. Melihat sentuhan sayang dari Raka tadi, kembali ayah menangis. Namun begitu, dengan sedikit tertahan karena air mata, gemetar dan haru, ayah melanjutkan lafadz Adzan untuk Raka. Berkali-kali juga, suara ayah sempat tertahan, ataupun bibir dan suara ayah bergetar terharu. Tapi Alhamdulillah, ayah bisa menyelesaikan adzannya. Ketika Qomad di telinga kiri, ayah sudah bisa sedikit mengendalikan emosi, dan dilafadzkan dengan sempurna.

11.20 WIB

Selanjutnya Raka digendong ke pelukan mamahnya untuk sementara.  Sekitar dua atau tiga menit, Raka dipelukan mamah, untuk kemudian Raka ditidurkan di kereta bayinya.

11.24 WIB

Sebelum dibawa ke kamar observasi bayi, ayah disuruh mencocokkan gelang biru (karena laki-laki) Raka dan mamah supaya tidak tertukar. Nomor gelang mamah dan Raka adalah 55507.

11.25 WIB

Setelah mamah dan raka dipasang gelangnya, Raka dibawa suster ke ruang observasi. Menurut suster, dalam jangka waktu satu jam, ayah dan mamah akan mengetahui keadaan Raka, berapa berat dan panjang badannya, normal atau tidak, dan semuanya tentang kondisi Raka.

11.20-11.40 WIB

Mamah dibius lokal untuk dilakukan penjahitan jalan lahir Raka yang tadi digunting dokter. Sebenarnya setelah mengAdzankan Raka, ayah sempat meliat dengan jelas jalan lahirnya Raka yang udah nggak berbentuk itu. Ayah ngeliat dengan jelas darah bercucuran disekitar jalan lahir Raka.

Untung dokter bram itu dokter yang baik. Sambil menghibur ayah dan mamah, dokter bram menjahit jalan lahir Raka dengan baik. Cukup banyak jahitan yang diterima mamah. Tapi dengan gayanya yang santai dan bersahabat, dokter mengajak kita ngobrol dan bercanda tentang proses persalinan tadi. Padahal sih maksudnya hanya untuk mengalihkan perhatian saja supaya kita berdua nggak khawatir dengan jahitan yang sedang dilakukan dokter.

Ayah tidak menghitung dan juga tidak menanyakan kepada dokter berapa pastinya jahitan mamah, tapi yang ayah tau jumlahnya pasti banyak. Karena meskipun kita ngobrol santai dan bercanda, tapi mata ayah tidak lepas dari jarum dan benang jahitan yang ada ditangan dokter Bram tadi. Untung dokter bram adalah dokter yang ahli, sehingga dengan santai dokter bram menjahit jalan lahirnya mamah

11.45 WIB

Proses jahit menjahit selesai. Dokter bram melepas sarung tangannya. Ayah dan mamah salaman dengan dokter bram, dan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuannya dalam proses kelahiran Raka

11.50-12.00 WIB

Suster membersihkan badan mamah, dan juga mengganti seprai, popok dan juga baju mamah yang berlumuran darah.

12.10 WIB

Mamah udah cantik lagi, tapi mamah masih lemes. Mamah istirahat ringan, sambil nunggu kedatangan Raka dari ruang observasi. Menurut suster, mamah baru bisa masuk ke kamar perawatan setelah dua jam dari proses persalinan. Jadi sekitar jam setengan dua siang mamah baru bisa masuk ke kamar perawatan. Sedangkan untuk Raka, baru bisa kumpul dengan mamah dan ayahnya sekitar satu jam setelah proses persalinan, karena harus diobservasi dulu

12.20 WIB

Makan siang mamah dateng. Mamah disuruh makan siang dulu.

12.30 WIB

Raka dateng dari ruang Observasi. Berat Badannya 3140 gram, tingginya 49 cm, kondisi normal. Alhamdulillah.

Ayah langsung berdiri dan liat-liatin Raka, dan mulai membanding-bandingkan, kira-kira Raka ini seperti siapa ya, mirip mamah atau mirip ayah yah....

13.15 WIB

Mamah dan Raka dibawah ke kamar perawatan

The End........*

Apa yang diceritakan diatas adalah garis besar yang ayah lihat dengan mata dan kepala ayah sendiri, dimana keadaan ayah yang belum tidur dari hari minggu pagi, atau 32 jam sebelumnya.

Mungkin ada beberapa bagian yang tidak atau belum diceritakan atau digambarkan. Yang pasti, prosesnya luar biasa... Saking luar biasanya, ayah sampai lupa untuk motret detik-detik kelahiran Raka.

Hendaknya para suami ikut dalam proses persalinan, agar kita, para suami bisa merasakan detik-detik perjuangan istri. Dengan meliat proses persalinan tersebut, rasa kasih sayang kepada keluarga, istri dan anak pasti akan bertambah. Dan kita juga pasti akan selalu bersyukur menerima kehadiran istri dan anak-anak kita, seberapa baik ataupun buruknya mereka. Karena dengan melihat dan mengingat perjuangan hidup dan mati seorang istri dalam melahirkan anaknya, darah dagingnya, kita pasti akan selalu bisa menerima, menyayangi dan mencintai pasangan dan keluarga kita seutuhnya.

Saya sengaja ikut proses persalinan istri tercinta, karena saya tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi pada istri ataupun anak saya dari proses ini. Kita tidak akan pernah tahu, apakah kita masih bisa bertemu dengan istri tercinta, atau malah dengan anak yang telah dikandung selama 9 bulan.

Sehingga, meskipun misalnya nanti hasilnya saya harus kehilangan salah satu dari orang terkasih (istri atau anak), saya ingin menjadi orang pertama yang melihat, menyaksikan dan menjadi saksi detik-detik yang mengharukan itu

Sekali lagi, dari proses persalinan yang mempertaruhkan nyawa ini, kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi pada keluarga kita

Untuk itu, jadikan proses pendampingan persalinan ini menjadi bentuk cinta dan kasih sayang kita kepada istri, seolah-olah kita akan merasakan dan memberikan cinta dan kasih sayang untuk yang terakhir kalinya...

Sayang dan cintailah ibu kita, karena mereka telah melahirkan kita dengan darah dan air mata, dan juga rela untuk mempertaruhkan nyawanya, semata-mata hanya untuk supaya kita, anaknya, lahir dengan selamat ke bumi ini...



Read More......